Dialog Antar Agama


Peranan agama dalam menciptakan tata dunia baru yang berkeadilan sangat penting. Konflik di Gaza mengajak kita semua merenungkan kembali makna hakiki yang mendasar mengenai sejauh mana sumbangan agama dalam menciptakan perdamaian. Sejak konflik Gaza meletus, berbagai tokoh agama di Indonesia bergandengan tangan mengusahakan perdamaian dan berupaya mencari solusi menghentikan konflik. Mereka tidak hanya datang ke perwakilan PBB di Jakarta, bahkan menulis surat kepada Presiden Obama agar politik Amerika segera mengubah haluan. Berubah untuk lebih aktif dalam memelihara perdamaian dunia. Khususnya, mengusahakan perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Dalam konteks politik Amerika, Thomas F Farr dalam World of Faith and Freedom menggarisbawahi, pemahaman agama yang kurang mendalam dalam kebijakan politik mereka. Pengalaman selama 21 tahun dalam pengabdian sebagai Direktur Kebebasan Beragama Komunitas Internasional, Farr menyoroti kebijakan luar negeri Amerika yang sering kali tidak tepat, misalnya dalam masalah Afghanistan dan Irak yang tidak peka terhadap kultur keberagamaan.

Ini merupakan bentuk pelanggaran yang paling mendasar, yakni kebebasan beragama. Amerika memaksakan demokrasi menjadi model konstitusi dengan mengabaikan aspek paling asasi manusia, yakni agama. Agama kerap kali dijadikan alat pembenaran untuk menciptakan konflik, terutama dalam melegalkan kekerasan atas nama agama. Padahal jelas bahwa agama merupakan sarana yang teramat penting dalam menciptakan perdamaian dunia.

Tentu saja, kebebasan agama tidaklah hanya sekadar kebebasan dari penyiksaan atau hukuman penjara yang tak adil. Kebebasan agama meliputi hak untuk berbagai tindakan publik dan dalam rangka berperan untuk pembentukan kebijakan publik. Kebebasan agama mengarahkan klaim bahwa agama dan status bisa secara terus-menerus didamaikan dan seimbang. Perang tidak akan menyelesaikan masalah melainkan hanya akan menciptakan lingkaran kekerasan baru.

Kehancuran Nilai Kemanusiaan

Cukup menarik memerhatikan seruan Paus Benediktus XVI dalam doa kepada dunia mengharapkan agar gencatan senjata segera diwujudkan untuk menghentikan kekerasan. Apa pun alasannya, kekerasan itu telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Desakan lebih kuat juga datang dari Konferensi Uskup Amerika yang meminta agar Amerika segera menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh Israel. Namun, seruan para tokoh dunia ini belum membuat Israel berhenti melakukan pengeboman terhadap warga sipil tidak berdosa.

Perang merupakan bibit kehancuran nilai-nilai kemanusiaan. Perang tidak akan membawa perubahan terciptanya perdamaian. Perang tidak akan menyelesaikan masalah. Perang hanya akan melahirkan masalah baru yang jauh lebih rumit dibandingkan sebelum perang.

Apa yang dilakukan Israel atas rakyat Palestina jelas melanggar moralitas kemanusiaan, HAM, dan melukai demokrasi yang telah susah payah dibangun di Palestina. Israel seperti monster yang menakutkan. Demikian juga para militansinya yang kerap menjadikan penduduk sipil tak bersalah sebagai tameng peperangan. Permasalahan Israel dan Palestina sudah bergeser dari masalah-masalah ideologis menjadi masalah kemanusiaan universal. Dengan alasan itulah maka setiap umat beragama apa pun dan dari kelompok mana pun yang mencintai perdamaian sudah seharusnya menggerakkan spirit perdamaian yang lebih luas.

Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan pun dan dimana pun. Hakikat agama adalah untuk kedamaian. Agama telah menunjukkan jalan terbaik sehingga sekarang tinggal bagaimana berbagai kepentingan tersebut bertemu satu meja, dan terimplementasikan dalam kehidupan nyata masyarakat. Perlunya penyadaran bahwa sebenarnya agama bukanlah kekuatan yang destruktif, tapi sebaliknya, transformatif.

Kesalehan Sosial

Dialog antaragama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka. Pembumian makna dialog ini berarti menepis hal-hal yang berbau ritual dan formal, tapi lebih menjunjung tinggi aspek semangat dan rohnya. Lebih jauh lagi, pembumian makna dialog juga berarti bagaimana masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian ini guna menjalankan kehidupan dalam suasana yang tenang tanpa ketakutan dan kecemasan.

Yang perlu mendapat prioritas adalah bagaimana membangun kesadaran dalam beragama. Keberagamaan kita mestinya tidak sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial. Kesalehan sosial, selain bermakna kepedulian di bidang ekonomi, juga kepedulian untuk tidak menghardik umat dari agama lain.

Jika agama kita berwajah seperti itu, wajah agama kita amat manusiawi, sebab orientasinya tidak egoistik, tetapi mengandung relasi dengan sesama, bahkan altruistik. Jika demikian, tiap ibadat pun lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.

Mempersembahkan korban bukan hal utama dalam agama, tetapi pemihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.

Tugas umat beriman adalah menyucikan dunia dengan menegakkan kemanusiaan manusia dan keadilan yang bermoral. Keberagamaannya bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egostik, tetapi sebaliknya altruistik. Romo Mangun (Alm) mengatakan, orang yang memiliki religiusitas itu tidak memikirkan diri sendiri, justru memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Iman harus menghasilkan buah kebaikan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Intinya, beragama secara benar adalah bila kita mampu mengendalikan organ tubuh kita sendiri untuk tidak memuaskan diri sendiri.

Upaya menciptakan toleransi dan kerukunan antarumat beragama sering kali terhalang karena yang ditonjolkan dalam diri setiap agama bukanlah persamaannya, melainkan perbedaannya. Sudah dipahami bahwa agama satu berbeda dengan lainnya, namun jarang dipahami bahwa salah satu cara baik untuk terus-menerus memperbaiki kehidupan beragama dalam bingkai pluralitas adalah memperbesar dan menonjolkan aspek persamaan yang ada. Sikap keberagamaan umat sangat tergantung dari sejauh mana umat dewasa melihat perbedaan sebagai potensi perdamaian, bukan potensi konflik. Perbedaan adalah keniscayaan yang alamiah, dan karena itulah dimengerti sebagai bekal untuk memupuk rasa persaudaraan dan kemanusiaan.

Sumber: Sinar Harapan

KIRANYA realitas yang tidak memanusiakan manusia seperti telah-dan mungkin juga sedang-kita alami ini menggugah tanggung jawab umat beriman yang masih percaya bahwa Tuhan masih hidup; Gusti ora sare. Meski demikian, realitas semacam ini akan membuat umat beriman sungguh frustasi bila dihadapi hanya dengan kekuatannya sendiri. Apalagi, sebagai warga sebangsa, kita sedang diadu domba. Akibatnya, kita saling curiga, saling bermusuhan, bahkan kadang saling membunuh. Sikap saling curiga, bermusuhan, dan saling bunuh ini sebenarnya diinginkan pihak-pihak tertentu.

Dengan kecurigaan dan permusuhan antarumat beragama, mereka ingin mendapat keuntungan. Tanda-tanda seperti ini harus dicermati secara jernih agar kita tidak terjebak konflik atas nama agama, tetapi sebenarnya hanya demi kepentingan kekuasaan. Agama yang hanya menjadi simbol retorika adalah agama yang tidak membebaskan. Agama semacam ini justru menjadi candu masyarakat Realitas agama seperti inilah yang dilawan (alm) Romo Mangun. Menurutnya, agama harus kritis terhadap kekuasaan.

Kenyataannya, selama 32 tahun, agama diadu domba, dengan diciptakan potensi konflik antarumat beragama dengan memformalkan agama demi kepentingan politik. Selama pemerintahan Orde Baru, kehidupan beragama terasing dari realitas hidup masyarakat. Dalam keterasingan itu, umat beragama melupakan medan perjuangannya yang sejati, yakni memperjuangkan masalah-masalah kemanusiaan, seperti pemerdekaan, moralitas, dan keadilan. Dalam gaya beragama Orde Baru, agama dipertentangkan satu dengan yang lain, diciptakan potensi konflik dengan cara yang tidak beradab, misalnya pembakaran rumah ibadat, isu SARA, atau dicarikan isu lokal yang ujung-ujungnya agar terjadi konflik antara warga sebangsa.

Bangsa ini mengakui sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tetapi dalam cara menyelesaikan konflik masih memakai pola Ken Arok. Dengan kata lain, bangsa ini masih amat primitif dalam menegakkan demokrasi. Upah yang harus dibayar untuk mencapai proses ini adalah jumlah korban begitu besar. Umat beragama seharusnya membebaskan masyarakat dari keterasingan ini, ternyata gagal total menjadi sang pembebas karena agama dibonsai kekuasaan dengan menyibukkannya pada hal-hal yang bersifat dogmatis, sehingga lupa akan sesama yang menderita. Agama menjadi terasing, dia cuek dengan penderitaan sesamanya, penindasan, menggusuran, hak rakyat kecil.

Inilah yang dikecam tokoh-tokoh pendiri agama, mereka kerap kali berhadapan dengan kekuasaan dan tokoh-tokoh agama yang sudah terhegemoni dengan kekuasaan. Secara jelas bisa dilihat dalam diri Yesus Kristus yang mengecam pemuka agama yang hanya memikirkan hal-hal ritual, tetapi melupakan keadilan, kemanusiaan, kebenaran. Dia hadir ke dunia untuk mewartakan kabar gembira kepada kaum papa, miskin, kaum timpang, tertindas, tawanan. Dia menawarkan, Kerajaan Allah sudah datang. Dia hadir membawa kabar sukacita itu.

Dalam perjalanan sejarah, Gereja melupakan misinya ini, karena terjebak politik kekuasaan. Berkat Martin Luther, Gereja Katolik mengadakan pembaharuan cukup radikal. Berani mengambil sikap tegas dengan kembali pada cita-cita semula, yakni wilayah kemanusiaan. Konsili Vatikan II adalah sebuah revolusi dalam tubuh Gereja yang menyadari, Gereja bukan sebuah menara gading. Dalam dektrit Nostra Aetate tegas dikatakan, “Marilah kita melupakan masa lampau, dan melihat masa depan dengan membangun kerja sama bersama umat Islam di mana sama-sama mengakui satu Bapa Abraham serta bersama umat beragama lain untuk memperjuangkan masalah dunia, yakni Keadilan, Kemerdekaan, Kemanusiaan, Moralitas”.

AGAMA kiranya tidak bisa diam bila ada penindasan, pemerkosaan, ketidakadilan. Agama seharusnya menyuarakan kebenaran. Agama seharusnya sadar akan tugas di dunia untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah itu hadir bila ada perdamaian, keadilan, cintah kasih, persaudaraan. Ini adalah medan perjuangan setiap umat beriman yang masih ber-Tuhan. Nyatanya, saat ini Tuhan dipinggirkan dalam sejarah; Tuhan hanya sekadar dikatakan bukan dalam tindakan.

Seorang beriman tidak akan membiarkan merekayasa pembantaian Semanggi, pembunuhan yang berkedok dukun santet, membiarkan kekerasan di Ambon, Aceh, Sambas, Timor Timur atau pembakaran rumah-rumah ibadat yang secara struktural terjadi terus-menerus dan seolah dilegalkan atas nama negara yang berdasarkan Pancasila. Realitas seperti ini membuat nurani seorang beriman dan bertakwa bertanya. Selama ini oleh para elite kita, Tuhan diletakkan pada dataran mana? Apakah kata “Tuhan” dipakai sebagai legalitas untuk membunuh, membenarkan segala tindakan kekuasaan?

Praktik seperti itu hanya bisa dilawan bila umat beriman sadar bahwa segala peristiwa yang terjadi di Republik ini bukan dilakukan seorang beriman, tetapi oleh yang namanya ninja, bandit, preman. Maka baiklah, demi menciptakan hari depan yang lebih baik dan damai, kita perlu memahami, Orde Baru sebagai sistem belum hancur. Orde Baru terdiri dari lima unsur:

Pertama, kebudayaan kerajaan feodal pribumi Nusantara zaman yang mestinya sudah lampau tetapi dihidup-hidupkan kembali demi suatu cara perbudakan lama dengan metode ekonomi model VOC dan Hindia Belanda yang menyedot seluruh kekayaan dan orang-orang paling cerdas dan berbakat dari semua daerah Nusantara ke pusat pemerintahan, ke Pulau Jawa dan teristimewa Factoria Jakarta; dengan ancaman kekerasan angkatan perang dan polisi rahasia; jangan lupa dengan bantuan para ningrat dan priayi pribumi yang menjadi kaki tangan kapitalisme para tuan dan puan di pusat.

Kedua, sistem pemerintahan dan penanganan masyarakat dengan model Jepang, zaman pendudukan dengan fasisme yang bermetode ancaman, teror, penyiksaan, dan ketakutan massal. Sambil menguras seluruh kekayaan penduduk demi balatentara Dai Nippon, yang kini terulang lagi secara lebih sistematis dan canggih.

Ketiga, sistem global MNC dengan perantara para komprador suatu elite ningrat pribumi bersama asing; ningrat priayi dan korps punggawa serta dunia pakar yang tidak lagi direkrut berdasarkan silsilah, tetapi berdasar ijazah dan korupsi serta nepotisme.

Keempat, akhirnya unsur yang sudah amat tua dan merambah seluruh Asia selama ribuan tahun, yakni cara menangani menggagahi masyarakat oleh sistem-sistem jagoan, bajingan, bandit, perampok, bajak laut, bajak darat. Di Indonesia belum punya nama dan organisasi yang rapi, tetapi justru karena itu lebih meluas, lebih merata, lebih kejam, dan lebih tidak tahu malu.

Dalam konstelasi lima unsur ini, Orde Baru menciptakan peristiwa-peristiwa sadis, seperti Poso, Sampit, Ambon, Sambas, Semanggi, Banyuwangi, 27 Juli, Situbondo, 13-14 Mei, dan Peristiwa 22 November 1998. Semoga umat beriman menjadi sadar bahwa kerusuhan-kerusuhan yang terjadi harus dilihat dalam konteks lima hal ini. Selama bangunan Orba ini masih dilestarikan namanya, perdamaian sejati tidak akan terwujud.

SALAH satu penyebab mengapa masyarakat mudah dipecah-pecah adalah banyaknya ruang kosong. Ruang kosong itu terlihat misalnya dalam kenyataan adanya jurang sedemikian dalam antara miskin – kaya, antara pendatang-setempat di suatu daerah dan lain-lain. Ruang kosong ini dimanfaatkan petualang politik yang ingin mendapat keuntungan dari konflik.

Peluang ini harus diperkecil dengan menciptakan kebersamaan di mana unsur elemen bangsa terlibat dalam masyarakat dengan dibukanya forum dialog rakyat, untuk membuka ekspresi dari ledakan-ledakan emosi yang selama ini terpendam. Kiranya Crisis Center juga dibentuk dengan tujuan memberi sosialisasi bahwa kerusuhan selama ini bukan dilakukan rakyat tetapi oleh manusia-manusia yang suka menjadi kayu bakar. Siapa itu, Anda bisa menduga sendiri. Cara-cara seperti ini digunakan untuk memecah belah kekuatan masyarakat sipil, maka rakyat perlu membangun ketahanan sendiri.

Agar umat beriman tidak selalu diobok-obok, sudah saatnya kita gantian memperdaya mereka dengan mencari solusi tepat dalam membentengi umat beragama. Dengan kesadaran baru untuk mewujudkan persaudaraan sejati yang dasarnya bukan sekadar saling memahami dan menghormati. Sudah saatnya rakyat mengadakan budaya negasi, tidak cukup hanya ada saling memahami dan menghormati. Lebih jauh dari itu kini harus ada persaudaraan sejati di antara umat beragama. Dalam persaudaraan sejati ini, harus dikembangkan sikap egaliter di mana tiap orang memiliki martabat sama, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dan tidak pula ada yang menindas dan ditindas.

Sumber: KOMPAS

AGAMA sebagai realitas sosial sejak ratusan atau ribuan tahun lalu telah membuktikan bahwa dalam dirinya memiliki kekuatan perubah yang sangat dahsyat. Bahkan, jauh sebelum Weber memperkenalkan tesis protestant ethic-nya, kekuatan agama sudah berulangkali membuktikan mampu melakukan perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat. Sebagai basis keyakinan dalam masyarakat, agama mampu mendorong pemeluknya untuk memandang realitas dunia sebagai obyek yang senantiasa disikapi, menurut visi teologis agama itu sendiri.

Dalam kenyataannya, perubahan sosial yang didorong oleh semangat agama terkadang tidak sejalan dengan nilai kesucian agama itu sendiri. Sebab, untuk menjadi daya dorong perubahan sosial, teks suci agama tentu melewati berbagai institusi (dan personifikasi) yang kerap tidak netral dan obyektif dalam memandang realitas. Satu hal lagi, karena agama kerap diposisikan secara formal-simbolistik bukan substansial; hanya diperjuangkan nilai-nilainya secara parsial tidak universal.

Itulah, maka tak mengherankan jika atas nama agama, manusia bisa berbunuh-bunuhan satu sama lain membela kesucian yang absurd. Apalagi jika ada pihak-pihak di luar agama yang turut memperkeruh suasana dengan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, maka otomatis tanpa disadari posisi agama sebagai kekuatan pembebas makin lama makin pudar, surut, susut, kering, dan tidak terasa lagi. Kira-kira, begitulah yang terjadi di Maluku dan berbagai daerah konflik.

Dialog antar-agama yang telah lama digagas di Indonesia, sampai kini, akhirnya terseret hanya untuk meredam potensi konflik antar-agama. Dialog antar-agama sebagai wilayah perbincangan netral hanya mengurusi masalah-masalah, baik yang ditimbulkan oleh tafsir konvensional atas teks agama maupun oleh kekuatan luar yang memanfaatkan potensi konflik antar-agama itu sendiri.

Tak bisa dipungkiri bahwa selama ini agama-yang menyebarkan ajaran perdamaian, kasih sayang dan kesejahteraan- tidak termanifestasikan. Sebab, agama hanya melayani pembelaan-pembelaan terhadap simbol-simbol saja. Dan, dialog antar-agama yang memiliki peluang untuk menciptakan perdamaian, kasih sayang, dan kesejahteraan, visinya hanya menyentuh pada aras perdamaian dan kasih sayang. Visi mensejahterakan pemeluk agama yang sebenarnya juga perlu diemban oleh komunitas dialog antar-agama, relatif belum tersentuh.

***
DI masa Orde Baru (Orba), meminjam ungkapan Gus Dur, agama hanya dijadikan alat legitimasi untuk mengabsahkan proyek-proyek pembangunan yang tidak diorientasikan untuk rakyat. Kolaborasi para elite agama dan birokrat, menghasilkan kebijakan-kebijakan yang hanya berorientasi untuk menggolkan kebijakan pembangunan yang berbasis semata-mata pada pertumbuhan ekonomi. Setelah melegitimasi, jasa agama sendiri hanya dibalas dengan pembangunan “sarana fisik” agama itu sendiri. Upaya untuk memberikan kesempatan luas dan terbuka bagi pemeluk agama untuk meningkatkan kemampuan ekonominya, secara tak disadari, tidak banyak diberikan.

Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengingatkan kita akan arti penting agama sebagai kekuatan pembebas. Selama ini wacana kita masih terkonsentrasi pada bagaimana agar agama tidak menjadi kekuatan konflik yang merusak. Penulis kira, kita harus mengembangkan wacana ini lebih jauh, yakni membuat agama – melalui forum-forum lintas agama-mengembangkan rumusan dan pola mensejahterakan masyarakat pemeluknya.

Mengapa ini penting? Sebab persoalan Indonesia, di samping potensi kerusuhan atas nama agama, juga dipicu oleh kemelaratan dan kemiskinan yang membelenggu semenjak negara Indonesia berdiri. Jika kita sepakat dengan konsep bahwa kerusuhan massa lebih banyak disebabkan oleh ketidakberdayaan ekonomi masyarakat, maka mau tidak mau forum dialog antar-umat beragama kini semestinya memperluas jangkauan kerjanya, yakni mengalihkan konsentrasinya pada persoalan masyarakat luas, persoalan kemanusiaan.

Ini kita yakini karena hampir 100 persen masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama, bukan ateis. Sementara 80 persen di antara mereka miskin secara ekonomi. Ini diperparah dengan adanya krisis ekonomi yang kita rasakan mulai akhir 1997.

Mereka yang umumnya berada di pedesaan dan terbiasa dengan pola pertanian yang konvensional akhirnya tercekik, tidak saja oleh kebijakan politik yang hanya mementingkan massa, juga oleh kebijakan ekonomi yang tidak memihak mereka. Harga BBM yang naik dan harga pupuk yang membubung tinggi, justru tidak selaras dengan harga penjualan produksi mereka yang cenderung menurun. Menghadapi hal-hal demikian itu, di mana peran agama? Di mana peran forum dialog antar-umat beragama untuk memberdayakan umatnya, yang tak lain adalah rakyat Indonesia ini?

Selama ini kita merasa tugas mengentaskan kemiskinan hanya terbebankan pada negara. Ternyata, di samping tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik karena sering terjadi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) negara juga kerap terlibat dalam praktik-praktik politik temporal yang tidak jelas pemihakannya pada rakyat banyak.

Karena itu, dengan tetap membiarkan negara melaksanakan tugasnya, agama hendaknya tidak hanya menjalankan fungsi kontrol saja, melainkan juga sebagai pelaksana dari pemberdayaan itu sendiri. Inilah yang dimaksud dengan perluasan wilayah jangkauan gerakan keagamaan. Dan, ini akan dilakukan dengan cara komunikasi antar-umat beragama dan mencari rumusan yang tepat untuk memberdayakan para pemeluknya yang dilanda kemiskinan.

Gerakan pemberdayaan ekonomi melalui dialog antar-umat beragama selama ini memang sudah dilakukan. Tapi, umumnya gerakan ini terbatas karena rumusan dan pola pemberdayaan yang tidak jelas. Akhirnya biasanya mereka melebur dalam gerakan-gerakan LSM dengan orientasi yang sama. Yang kita butuhkan, dengan berpedoman pada kekuatan agama sebagai pembebas, adalah para elite agama bersatu dalam sebuah komunitas dialog antar-agama untuk merumuskan visi yang sama memberdayakan ekonomi masyarakat.

***
DENGAN demikian, pertama-tama langkah yang dilakukan adalah dengan menepiskan dugaan-dugaan konvensional semacam kristenisasi maupun islamisasi, dan sebagainya. Dan, dugaan-dugaan ini diasumsikan akan melenyap dengan sendirinya jika rumusan pemberdayaan masyarakat dikerjakan secara bersama-sama antara agama yang satu dan yang lain.

Dengan adanya kesepakatan, maka akan tercipta obyektivitas dan netralitas: bahwa semua akan dilakukan atas nama kemanusiaan; bahwa peluang konflik atas nama agama bisa diminimalkan jika masyarakat pemeluknya sudah berdaya baik secara ekonomi, sosial maupun politik. Dengan demikian, fungsi sosial agama akan kelihatan sejauh konsentrasi masyarakat bukan untuk saling mencurigai dan berbunuh-bunuhan.

Selama ini tuduhan atas adanya penyebaran agama tertentu harus dilihat sebagai akibat bahwa program pemberdayaan ekonomi dilakukan secara sendiri-sendiri alias parsial. Belum ada suatu gerakan yang sangat kondusif dan berpengaruh luas yang digagas oleh forum lintas agama untuk memberdayakan para pemeluk agama secara integral sebagai warga negara Indonesia.

Kesadaran ini melemah; salah satunya juga karena berangkat dari tafsir teks agama yang simbolistik dan formalistik tersebut. Akhirnya, agama terjebak hanya untuk melayani kepentingan umatnya sendiri dan tidak memperluas jangkauannya sebagai wilayah kemanusiaan yang universal.

Agama dalam pandangan Hans Kung, hanya terjebak untuk pemenuhan ko-eksistensinya saja, dan bukan pro-eksistensi. Dalam hal ini, gagasan Dunne bahwa dialog agama mestinya menganut konsep passing over, bisa dijalankan secara bebas dan bertanggung jawab.

***
AKHIRNYA, berdialog dengan cara ini, yakni dengan visi pemberdayaan ekonomi, pada akhirnya membuat kita tidak cukup membiarkan pemeluk agama lain ada (ko-eksistensi), melainkan lebih dari itu yakni memberdayakan dengan berpartisipasi aktif meng-ada-kan (mengeksiskan) pemeluk agama lain (pro-eksistensi). Transformasi dari sikap ko-eksistensi menuju pro-eksistensi ini hendaknya tidak hanya mewujud dalam wacana saja, tapi juga dalam sikap, konsep, rumusan, dan format pemberdayaan ekonomi masyarakat secara jelas.

Apalagi di era globalisasi ekonomi yang sudah semakin mengkhawatirkan dalam menciptakan pola kemiskinan yang baru, maka pemberdayaan kekuatan-kekuatan lokal tidak bisa diabaikan begitu saja. Gagasan ini penting dikemukakan, mengingat keterpurukan kita sebagai bangsa dan hilangnya harga diri kita sebagai masyarakat telah membuat semakin hancurnya martabat kita sebagai manusia.

PROGRAM bilateral Interfaith Dialogue telah dilaksanakan pada 12-14 Oktober 2008 di Beirut, Lebanon, dengan mengangkat tema Promoting interfaith dialogue among plural society. Dialog itu terselenggara atas kerja sama Deplu, KBRI Beirut, dan Dar El Fatwa Lebanon di bawah pengawasan Perdana Menteri HE Mr Fouad Seniora.

Dialog itu dianggap penting sebagai proses menuju sebuah keterbukaan dan tukar pengalaman dalam membina kerukunan umat beragama. Di tengah kekerasan dam berbagai masalah menyangkut agama dan keberagamaan, dialog antaragama tetap berposisi penting bagi dunia saat ini. Tentu tidak hanya untuk tukar informasi dan komunikasi, tapi lebih dari itu adalah sebagai bagian dari perubahan cara berpikir, bernalar, berelasi dalam membangun peradaban.

Pertemuan antartokoh agama itu memberikan inspirasi bagi bangsa ini untuk saling belajar bagaimana memahami berbagai macam sekte dan aliran keagamaan. Yang penting bagaimana perbedaan tetap bisa melahirkan tata hidup yang berdampingan dalam suasana damai dan saling menghormati.

Dari pengalaman dialog antaragama di Indonesia kita bisa memetik beberapa hal positif. Dalam kurun waktu lebih kurang 10 tahun terakhir terdapat perkembangan positif terkait dengan kerukunan umat beragama, yang salah satu faktor pentingnya adalah adanya komunikasi yang lebih intensif antarpara pemuka agama. Di Indonesia hal itu didukung national identity, dalam hal ini Pancasila, sebagai komponen pemersatu bangsa yang majemuk.

Dengan meningkatnya peran pemuka agama dalam mencegah konflik dapat dilihat melalui berbagai Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk di setiap provinsi dan kabupaten/kota. Forum itu selain membahas tentang agama juga membahas hal-hal aktual yang berkaitan dengan kesejahteraan umat beragama.

Belajar dari fenomena agama di Lebanon, sebagaimana dipaparkan delegasinya, kita bisa melihat, antara lain umat beragama yang pada umumnya menghargai proses dialog dan berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai. Artinya, adanya konflik di sana diakui pada dasarnya bukanlah disebabkan karena perbedaan agama yang terdiri dari 18 sekte. Hal itu terjadi sebagai bagian dari pertentangan politik dan kepentingan lainnya.

Pada masa Perang Saudara (1975-1990) tidak terdapat aksi perusakan terhadap rumah ibadah. Justru sistem pembagian kekuasaan berdasarkan sekte agama juga diakui merupakan salah satu faktor yang melemahkan persatuan nasional Lebanon. Hal itu diperparah pengaruh konflik regional yang memengaruhi situasi domestik Lebanon.
Terdapat hal-hal yang menjadi perhatian, antara lain perkawinan lintas agama dan penyebaran agama di Indonesia. Dapat diakui bahwa dua hal tersebut sering menimbulkan gesekan antarumat beragama. Namun begitu, pemerintah Indonesia mencoba untuk meminimalisasi gesekan tersebut melalui peraturan-peraturan hukum. Sementara itu, Lebanon menyampaikan berbagai cara untuk mempererat hubungan antarumat beragama, baik melalui pendidikan maupun kegiatan keagamaan, termasuk penetapan hari besar keagamaan yang diperingati bersama warga Muslim dan Kristen.

Pengalaman kedua negara Indonesia dan Lebanon dalam menciptakan kerukunan antarumat beragama ada kesamaan dan perbedaan. Dari sana kedua negara bisa belajar bagaimana pentingnya membangun komunikasi antartokoh agama dalam menciptakan perdamaian. Peranan tokoh agama penting bagi terciptanya kerukunan di antara pemeluk agama. Peranan mereka juga urgen dalam menciptakan kesadaran umat beragama mencintai bangsanya. Kecintaan terhadap bangsa menjadi landasan untuk memberikan sumbangsih bagi kesejahteraan bersama dan mewujudkan cita-cita menciptakan perdamaian dunia.

Peranan agama

Peranan agama amat penting sebagai poros yang memainkan perannya sebagai penyeimbang dalam dua poros utama, yakni negara dan pasar. Hal itu dikatakan karena selama ini agama sering terjebak pada permainan negara dan terjerumus dalam logika pasar kapitalisme yang kerap mencelakakan. Agama harus dikembalikan perannya sebagai penyeimbang dalam dua kekuatan besar tersebut. Itulah yang dimaksud upaya merenda habitus baru bangsa, dan upaya untuk merumuskan kultur bangsa yang beradab.

Bahwa orientasi hidup beragama tidak hanya sekadar mencari kerukunan antaragama satu dan lainnya, setelah itu everything is over. Justru setelah kerukunan agama tersebut hidup berkelanjutan, hal itu menjadi modal bangsa untuk membangun dan mencari keseimbangan di antara posisi negara dan pasar, antara perancang kebijakan politik dan para pelaku ekonomi. Jadi, masalahnya adalah bagaimana kerukunan hidup beragama itu bisa menjadi modal dasar untuk membangun sebuah cara pandang, merasa, dan perilaku sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan.
Agama akan menjadi roh pembebas masyarakat dari ketakutan akan represi negara maupun ketertindasan eksploitasi ekonomi. Agama tidak menjadi orientasi hidup, melainkan untuk menjadikan hidup ini lebih berorientasi pada kemanusiaan.

Sampai kini kita menghadapi masalah, agama masih sering dijadikan instrumen kekuasaan daripada sebagai pewarna dan pengarah. Itulah yang membuat agama sering mandul dalam diri para pengkhotbah dan para pemeluknya. Sebab, ia tidak pernah dibatinkan dalam perilaku, tetapi lebih dijadikan komoditas politik dan ekonomi untuk kepentingan jangka pendek dan amat sempit. Orientasi beragama justru bukan untuk mengembangkan keadaban publik, tetapi lebih pada bentuk lahiriahnya saja.

Sumber: Media Indonesia

Pluralitas di Indonesia adalah berkah tak ternilai harganya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. sayangnya, manusia sering salah menerjemahkan rahmat tersebut sehingga kerap menjadi bencana. Bukanlah Tuhan yang menganugerahkan bencana, melainkan manusia yang memiliki cara pandang sempit (miopik) yang sering menyelewengkan rahmat tersebut menjadi bencana. Agama dan keberagamaan merupakan tolok ukur dan pintu gerbang (avant garde) menilai bagaimana pandangan pluralitas ditegakkan. Bagaimana individu dan kelompok tertentu memandang individu dan kelompok lainnya. Semangat keberagamaan yang cenderung memuja fundamentalisme menjadi akar masalah serius seringnya pluralitas berpeluang menjadi bencana daripada rahmat.

Keberagamaan yang demikian akan menjebak sense u-mat hanya kepada saudara-saudara seagama (in group feeling) dan menomorduakan saudara dari agama lain. Lahir sikap tidak objektif dalam memandang apa yang ada di luar agamanya. Lahirlah primordialisme sempit yang akan mengakibatkan berbagai konflik sosial politik dengan implikasi perang dan kekerasan antaragama yang mengatasnamakan agama. Tentu perlu disadari bahwa agama yang bersifat primordial akan selalu menegasikan aspek pluralitas. Selanjutnya, ini menghilangkan moralitas manusia yang paling asasi. Tentu perlu kita sadari fungsi agama adalah menolak segala macam sikap kebencian, balas dendam, kepicikan, pembunuhan, pemaksaan, perampokan, dan kerusuhan. Fungsi agama adalah mengembangkan sikap kebaikan, belas kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan asal-usul suku dan budaya, ras maupun gender. Agama tanpa fungsi semacam itu hanya akan melahirkan suatu pemujaan (cult) belaka.

Agama dan Ancaman Konflik Sosial

Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Tidak pernah ada cita-cita agama manapun yang ingin membuat onar, membuat ketakutan, suasana mencekam, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama, masyaraka dibayangkan sebagai kelompok tak beraturan, suka berkonflik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya. Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini. Agama, dengan demikian harus kita sepakati terlebih dahulu, hadir untuk menciptakan ketenteraman, untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain. Ada banyak agama dan kepercayaan di bumi ini. Logisnya, antaragama dan kepercayaan semestinya tumbuh sikap saling menghormati itu.

Namun sayangnya, dari masa lalu hingga kini, suatu agama kerap memandang dirinya sebagai satu kebenaran tunggal dalam memotret agama lain, demikian pula dengan agama yang lain. Antaragama jarang menemukan titik temu atas realitas perbedaan yang sudah semestinya niscaya ini. Lalu terjadilah konflik yang berdarah-darah, pembunuhan korban tak bersalah atas nama agama. Sebagai pemeluk agama yang benar-benar memanifestasikan imannya untuk kedamaian di dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, hilanglah nurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tak lagi menjadi payung perdamaian karena sudah mengalami politisasi dan fanatisme.

Dialog antaragama dan komunikasi antariman dengan demikian, akan menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik. Ia adalah suatu konsep di mana penghargaan pada masing- masing keyakinan menjadi poin utama. Logisnya, menganggap keyakinan sendiri paling benar adalah ketidakdewasaan menghadapi dan memahami hakikat atau substansi agama. Untuk membangun pergaulan agama-agama yang lebih manusiawi dan untuk meredam potensi-potensi kekerasan umat beragama yang bisa muncul dari klaim-klaim kebenaran sepihak itu, tampaknya jalan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas pandangan inklusif (terbuka) dari visi religiusitas kaum beragama.

Humanisme, Agama dan Politisasi

Tidak bisa tidak, agar agama-agama mampu menghadapi tantangan masa depan yang berupa globalisasi, ia harus benar-benar bersifat humanistik serta terbuka. Artinya, ketika melakukan dialog perlu ditanamkan sebuah keyakinan bahwa kebenaran suatu agama adalah milik masing-masing pemeluknya.

Sementara itu, penghargaan dan penghormatan atas agama lain adalah prioritas mutlak dalam mewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Tanpa adanya sikap saling mengormati, tampaknya kita semakin terperosok pada keyakinan yang membabi-buta atas agama tertentu di alam yang plural ini. Dan, kita akan terjebak pada potensi-potensi kekerasan yang jelas-jelas menodai rasa kemanusiaan kita. Tugas penting agama- agama adalah bersama mencari makna kemanusiaan. Yang terjadi pada masyarakat kita selama ini adalah ketakutan mental, minimnya sikap saling menghormati dalam beragama. Ini bertentangan dengan nilai kemanusiaan dalam agama.

Sikap agama terhadap masalah kemanusiaan, akan menjadi tolok ukur profetis agama di tengah masyarakat. Kehilangan fungsi profetis ini otomatis menghilangkan fungsi agama di tengah masyarakat. Bahkan, TH Sumartana almarhum (1996) mengatakan bahwa dalam diskursus kita tentang pertemuan antaragama, kita terpanggil bukan hanya untuk membuat agenda sosial politik dan lainnya. Tetapi setaraf dengan itu, kita harus mengedepankan sebuah agenda teologi sebagai kesatuan integral.

Dengan demikian, tugas teologi dalam agama mestinya diarahkan untuk mengusir rasa takut terhadap agama lain. Sehingga agenda yang sangat mendesak adalah mengalahkan ketakutan bersama antar agama itu dan memunculkan kebersamaan agama-agama dalam menjaga dan mempertahankan martabat manusia dari ancaman terutama yang datang dari diri sendiri. Di masa Orba, kita sering merasa sedih karena agama selalu mengalami reduksi dan politisasi. Doktrin agama tentang kedamaian direduksi menjadi sebentuk fundamentalisme, yaitu hasil dari proses politisasi dan fanatisasi agama. Di masa itu pula kita memahami bahwa pereduksian agama akan melahirkan situasi di mana agama tertentu terjebak dalam konfrontasi dengan kelompok agama lain. Keberagamaan kita terjebak kepada bentuk formalisme beragama. Akibat yang memilukan adalah agama justru terasing dari persoalan kehidupan manusia. Mengapa demikian? Hal ini tak lain karena fungsi agama kabur. Agama yang seharusnya menjadi pembebas, malah terjebak pada aspek romantisme formal.

Oleh karena itu, di sini penting mengutip pendapat JB Banawiratma (1996) bahwa dalam memandang agama kita perlu melihatnya dalam dua aspek, yakni dengan huruf kecil dan besar. Dalam “agama” (`a´ kecil) ajaran diberikan pada manusia untuk beriman kepada Tuhan yang memberi hidup, dan dalam “Agama” (`A´ besar) para pengikutnya cenderung membakukan ajaran-ajaran yang normatif, membangun institusi dan memperlakukannya secara ekstrim. Ini artinya agama yang ia yakini benar adalah benar untuk semua, dan agama yang lain salah.

Beragama secara ekstrem sebagaimana di atas akan menutup peluang sikap saling menghormati dan membantu pihak lain. Jika kita runut ke belakang, ini terjadi akibat tafsir-tafsir atas teks agama yang masih didominasi tafsir tekstual, bukan kontekstual. Ayat suci agama tidak diorientasikan mengikuti perkembangan kemanusiaan, melainkan perkembangan kemanusiaan yang harus mengikuti aturan ayat suci. Akibatnya, pikiran kaum beragama menjadi beku dan rigid. Segala sesuatu yang konstruktif dan membawa perdamaian, tapi jika ditafsir secara berbalikan dengan teks ayat suci agama itu akan menjadi dekonstruktif.

Sumber: Sinar Harapan

“Jika memang hanya ada satu Kebenaran (Tuhan), mengapa harus ada banyak agama?” Pertanyaan itu diajukan oleh seseorang kepada Mahatma Gandhi, seperti pernah dituturkan Fischer dalam suatu karyanya. Di sini pertanyaan tersebut  diajukan ulang untuk memulai tulisan ini sekaligus untuk menyambut baik pikiran-pikiran “mbeling” yang menyegarkan dari anak muda NU yang bernama Ulil Abshar-Abdalla (“Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam”, Kompas, 18/11/02).

Dalam sebuah tulisan yang cukup menggugah—di tengah-tengah bulan suci Ramadhan, di tengah-tengah segala sesuatu yang berbau fundamentalisme menuai kecaman, termasuk di tengah-tengah penangkapan tersangka pelaku pengeboman di Legian Kuta Bali yang ternyata mengaku tidak menyesali perbuatannya (karena dianggapnya sebagai tugas suci agama)—Ulil menyajikan pemikiran yang sangat menyentak kita semua. Meskipun ia memberangkatkannya dalam konteks Islam. Tak bisa dipungkiri bahwa tulisannya menyindir segenap pemeluk agama yang sampai sekarang menjadi pemelihara dogma agamanya masing-masing, tanpa mempertimbangkan pentingnya refleksi kekinian. Setidaknya, tulisan Ulil cukup membuat merah telinga para agamawan. Dalam dekonstruksi cara beragama seperti dalam pikiran Ulil, kita bisa melihat betapa bukan dogma, kulit muka, institusi, dan ritus agama yang harus dipentingkan alias diutamakan seperti terjadi dewasa ini. Lebih penting dari itu adalah keharusan umat agar melihat agama sebagai sebentuk relativisme, isi, substansi, dan pengalaman-pengalaman kemanusiaan. Untuk pertarungan kedua visi beragama ini, praktis tidak hanya terjadi di Islam saja seperti disorot Ulil, melainkan juga di sembarang agama di muka bumi ini yang mengalami hal serupa.

Jelasnya, tampak bagaimana realitas dogma lebih dipentingkan daripada refleksi kekinian, kulit muka lebih diunggulkan ketimbang isi, dan ritus lebih dihargai daripada pengalaman-pengalaman kemanusiaan. Maka di sini muncullah pertanyaan kita, bagaimana roh agama bisa membangun peradaban kemanusiaan yang adil dan damai jika di hadapannya yang masih dianggap masalah adalah perbedaan keyakinan, perbedaan cara ibadah, dan bukan pemberantasan tindak kekerasan dan ketidakadilan? Dalam konteks agama-agama, problem ini bertambah rumit saja. Keyakinan suatu pemeluk agama terhadap ketuhanannya pada akhirnya berubah menjadi ekspresi keberingasan untuk menyerang perbedaan keyakinan agama yang dimiliki orang lain. Karena itu pertanyaan yang diajukan di atas mungkin bisa memicu refleksi dan interpretasi yang lebih humanis lagi atas teks (yang berupa) agama-agama yang ada di bumi ini. Maka betul yang dikatakan Ulil bahwa persoalan besar yang dihadapi agama-agama di era globalisasi ini adalah di sekitar cara umatnya menafsir teks yang ia hadapi. Gandhi mengiaskan jawaban pertanyaan di atas dengan berujar, “Satu pohon punya banyak cabang, ranting dan daun.” Lantas kita pun bisa meneruskannya di sini, betapa tidak indah pohon tersebut jika satu cabang tertentu bergerak merusak eksistensi cabang yang lain. Kiasan Gandhi sangat berlaku universal, dan merupakan ekspresi yang sangat baik untuk menjembatani pertentangan-pertentangan yang ada yang dirujukkan kembali pada keyakinan manusia terhadap Tuhan.

Di sisi lain, kiasan Gandhi di atas juga bisa membangkitkan semangat kita untuk menghormati perbedaan. Penghargaan atas pluralitas adalah kata kunci (key word) dan satu-satunya kata kunci untuk menegakkan keadilan dan perdamaian di bumi ini sesuai dengan titah Tuhan! Dan di sinilah, saya kira, upaya menafsirkan cara beragama seperti yang sangat sering dipersoalkan Ulil. Sungguh benar saat ini kita membutuhkan penafsiran kembali teks agama sesuai dengan konteks pengalaman kemanusiaan yang kita hadapi. Jadi bukan sesuai dengan akar historis semata seperti dilakukan banyak orang saat ini, dan ujung-ujungnya adalah legitimasi kekerasan dari yang satu atas yang lain! SEJAK lama manusia merindukan rahmat perdamaian dan keadilan—dan umumnya manusia di bumi ini sudah mempercayai bahwa agama bisa menghantarkan manusia mencapai tujuan tersebut.
Maka dalam pelbagai agama manapun diajarkan, bahwa dalam proses menemukan kesejatian dirinya, manusia akan berhadapan pada satu pertanyaan besar: Manusia diciptakan untuk apa? Apa hidup di dunia ini hanya sekedar untuk mencari roti yang mengenyangkan perut? Kita sadari bahwa realitas hidup yang penuh warna­warni adalah kenyataan sejarah. Namun demikian kita saksikan pula bahwa dalam menghadapi realitas yang selalu berubah itu, manusia kerapkali memainkan perannya persis seperti dalam panggung sandiwara, di mana apa yang dilakonkan harus sesuai persis dengan catatan skenario sang sutradara.
Tidak perlu ada improvisasi, sebab keluar dari alur skenario akan berbuah neraka. Maka seperti sandiwara itulah, manusia memainkan perannya dalam menghayati agamanya. Setiap peranan yang ia mainkan cenderung berlainan dengan realitas dunia. Realitas yang ada kerapkali tidak cocok dengan realitas yang dirindukan: Seolah-olah agama tidak sejalan dengan pengalaman kemanusiaan yang terus berkembang, sementara dogma agama cenderung dipahami secara statis.

Tak jarang alias sangat sering, umat beragama terjebak pada penghayatan hanya sewarna saja, monoton. Akibatnya orientasi keagamaan berubah menjadi sikap yang kekanak-kanakan, dan tentu naif! Agama diperlakukan seolah-olah merupakan jalan satu-satunya dalam rangka membereskan segenap persoalan di dunia ini. Jelas, bahwa pandangan seperti ini hanya akan menyeret agama jatuh ke dalam lubang romantisisme. Tampak sekali bahwa romantisisme historis ini begitu dominan dalam kehidupan beragama kita dewasa ini. Beragama seperti halnya memasuki lorong waktu yang membawa kita kembali ke masa lampau. Mengapa? Salah satu sebabnya adalah karena otoritas “para penguasa” agama yang cenderung menyeret pemahaman umatnya kepada masa lampau itu sendiri. Tak peduli kelam atau tidak, yang penting masa lampau dibuat terang untuk hari ini. Seolah-olah dunia yang sudah berubah drastis saat ini hendak dikembalikannya lagi pada zaman sudah lewat. Akibat yang paling pasti dari cara beragama yang demikian adalah perilaku beragama yang cenderung naïf karena munculnya anggapan bahwa dirinya adalah satu-satunya eksistensi yang paling benar, dan harus mendapatkan pembenaran dari eksistensi lain. Apa yang patut disedihkan? Eksistensi yang lain itu juga melakukan hal serupa dengan eksistensi sebelumnya. Maka yang terjadi sudah jelas, orang berani bertindak kasar atas nama agama, hukum Tuhan.

Dalam analisis Ulil, hukum Tuhan itu tidak ada, yang ada adalah nilai kemanusiaan universal. Dalam kasus ini bisakah kita secara serius membayangkan arogansi tersangka pelaku pemboman di Legian Kuta Bali yang bisa berbangga dan menyatakan diri tak menyesal sedikitpun karena perbuatan itu dilakukan atas nama Tuhan. Ia bahkan merasa lega setelah membunuh banyak orang atas nama agama? Cara menafsir agama seperti apa yang dimilikinya sehingga orang boleh dibunuh karena keyakinan yang tidak sama? Cara beragama seperti ini tampak sulit dimengerti. Merampok toko emas yang hasilnya untuk dana pembumihangusan orang-orang tak berdosa?

Boleh jadi benar pendapat Jurgen Meyer bahwa agama dalam dirinya memang beronak duri kekerasan: Mengerikan! Marx pun bahkan harus mencampakkannya. Sikap beragama seperti di atas cenderung melihat dunia sebagai sesuatu yang harus sewarna. Maka ketika dia melihat realitas yang ada tidak sewarna dengan keyakinannya, maka ia harus dan diharuskan mencari-cari pembenaran agar eksistensi lain tersebut boleh dibinasakan, dengan cara apapun. Membunuh dan merampok, membinasakan dan membumihanguskan secara massal menjadi absah-absah saja, tatkala pembenarannya sudah ketemu: Perintah Tuhan! Pertanyaan kita adalah, Tuhan mana yang menciptakan manusia dengan tujuan diadu satu sama lain dalam sebuah medan peperangan tak habis-habisnya? SIKAP beragama yang eksklusif akan melahirkan keyakinan yang sangat naif: bahwa dirinyalah satu-satunya sumber kebenaran. Klaim kebenaran eksklusif ini berkonskuensi pada adanya pemisahan terminologi antara “anak terang” dan “anak gelap”. Klaim sebagai “anak terang” akan memberikan legitimasi bahwa dirinya berhak melenyapkan “anak gelap”. “Anak gelap” harus musnah dan dimusnahkan atas nama perintah suci yang dibenarkan agama. Secara moral, agama tidak mengajarkan atau melakukan kekerasan. Namun secara propetis, agama akan melakukan kekerasan ketika identitasnya merasa terancam.

Penganut agama merasa benar melakukan kekerasan, karena demi “tuhan”-nya. Memang naif, jika agama tidak mengakui bahwa dalam dirinya ada potensi kekerasan, seperti kata Meyer. Dalam kitab suci agama-agama, umumnya dimuat sejarah kekerasan. Namun itu semua adalah untuk memberi pelajaran dan pengalaman kepada manusia agar kekerasan tidak digunakan. Maka jika ada perbuatan kekerasan dilegalkan atas nama “tugas suci”, pada dasarnya ia telah terjebak dalam kepentingan-kepentingan yang jauh dari roh agama itu sendiri. Kecenderungan menafsirkan agama secara statis inilah yang sebenarnya merupakan akar segala masalah perdamaian di bumi ini. Jadi kegundahan Ulil dalam pemikirannya itu merupakan keprihatinan semua umat beragama yang merindukan rasa damai. “Perdamaian ada bersamamu, yang terjaga,” kata Gibran.

Umat beragama perlu mengadakan revolusi terhadap dirinya sendiri, dengan berani terus­menerus menafsirkan teks secara konteksual. Teks terus-menerus harus ditafsirkan dalam pelbagai konteks dan untuk kepentingan kemanusiaan. Dengan demikian, maka cakrawala agama akan semakin luas dan semakin menyentuh nilai-nilai kemanusiaan secara universal. Moralitas agama tidak mengajarkan:

“Yang penting gue slamet, elo mau modar, sekarat, mati, itu bukan urusan gue,” sebuah moralitas yang kini menjangkiti para politisi kita. Mengapa? Sebab ini akan membawa agama hanya sibuk mengurusi ritualisme tapi melupakan keadilan, kejujuran dan ketulusan. Agama hanya terjebak pada gebyar-seremoninya saja tetapi melupakan persoalan manusia yang mendasar. Ini akan membawa agama jatuh pada sekat-sekat primordalisme. Di sinilah maka agama harus berani bercermin terus-menerus untuk secara rendah hati menilai bahwa dirinya tidak sempurna. Mengaku diri tidak sempurna akan membawa umat beragama terus-menerus belajar dari kekurangan dan ketidakberdayaan. Dan saya kira, dalam berbagai kekurangan pemikirannya, Ulil telah melakukannya.

Pluralitas di Indonesia adalah berkah tak ternilai harganya dari Tuhan Yang Maha Kuasa. sayangnya, manusia sering salah menerjemahkan rahmat tersebut sehingga kerap menjadi bencana. Bukanlah Tuhan yang menganugerahkan bencana, melainkan manusia yang memiliki cara pandang sempit(miopik) yang sering menyelewengkan rahmat tersebut menjadi bencana.

Agama dan keberagamaan merupakan tolok ukur dan pintu gerbang (avant garde) menilai bagaimana pandangan pluralitas ditegakkan. Bagaimana individu dan kelompok tertentu memandang individu dan kelompok lainnya. Semangat keberagamaan yang cenderung memuja fundamentalisme menjadi akar masalah serius seringnya pluralitas berpeluang menjadi bencana daripada rahmat.

Keberagamaan yang demikian akan menjebak sense u-mat hanya kepada saudara-saudara seagama (in group feeling) dan menomorduakan saudara dari agama lain. Lahir sikap tidak objektif dalam memandang apa yang ada di luar agamanya. Lahirlah primordialisme sempit yang akan mengakibatkan berbagai konflik sosial politik dengan implikasi perang dan kekerasan antaragama yang mengatasnamakan agama.

Tentu perlu disadari bahwa agama yang bersifat primordial akan selalu menegasikan aspek pluralitas. Selanjutnya, ini menghilangkan moralitas manusia yang paling asasi. Tentu perlu kita sadari fungsi agama adalah menolak segala macam sikap kebencian, balas dendam, kepicikan, pembunuhan, pemaksaan, perampokan, dan kerusuhan. Fungsi agama adalah mengembangkan sikap kebaikan, belas kasihan, solidaritas, persaudaraan universal tanpa membedakan asal-usul suku dan budaya, ras maupun gender. Agama tanpa fungsi semacam itu hanya akan melahirkan suatu pemujaan (cult) belaka.

Agama dan Ancaman Konflik Sosial

Agama diturunkan ke bumi ini untuk menciptakan kedamaian dan ketenteraman. Tidak pernah ada cita-cita agama manapun yang ingin membuat onar, membuat ketakutan, suasana mencekam, pembunuhan, sadisme dan perusakan. Sebelum adanya agama, masyaraka dibayangkan sebagai kelompok tak beraturan, suka berkonflik, saling membunuh, saling menjelekkan dan seterusnya. Kemudian agama datang untuk membawa cahaya kedamaian bagi manusia di bumi ini. Agama, dengan demikian harus kita sepakati terlebih dahulu, hadir untuk menciptakan ketenteraman, untuk saling menghormati dan memahami satu sama lain. Ada banyak agama dan kepercayaan di bumi ini. Logisnya, antaragama dan kepercayaan semestinya tumbuh sikap saling menghormati itu. Namun sayangnya, dari masa lalu hingga kini, suatu agama kerap memandang dirinya sebagai satu kebenaran tunggal dalam memotret agama lain, demikian pula dengan agama yang lain. Antaragama jarang menemukan titik temu atas realitas perbedaan yang sudah semestinya niscaya ini. Lalu terjadilah konflik yang berdarah-darah, pembunuhan korban tak bersalah atas nama agama. Sebagai pemeluk agama yang benar-benar memanifestasikan imannya untuk kedamaian di dunia, kita benar-benar dibuat sedih. Jika konflik atas nama agama dibenarkan, hilanglah nurani dan hakikat agama itu sendiri. Agama tak lagi menjadi payung perdamaian karena sudah mengalami politisasi dan fanatisme.

Dialog antaragama dan komunikasi antariman dengan demikian, akan menjadi sesuatu yang amat berharga dalam rangka menyelesaikan konflik. Ia adalah suatu konsep di mana penghargaan pada masing-masing keyakinan menjadi poin utama. Logisnya, menganggap keyakinan sendiri paling benar adalah ketidakdewasaan menghadapi dan memahami hakikat atau substansi agama. Untuk membangun pergaulan agama-agama yang lebih manusiawi dan untuk meredam potensi-potensi kekerasan umat beragama yang bisa muncul dari klaim-klaim kebenaran sepihak itu, tampaknya jalan untuk mengatasinya adalah dengan memperluas pandangan inklusif(terbuka) dari visi religiusitas kaum beragama.

Humanisme, Agama dan Politisasi

Tidak bisa tidak, agar agama-agama mampu menghadapi tantangan masa depan yang berupa globalisasi, ia harus benar-benar bersifat humanistik serta terbuka. Artinya, ketika melakukan dialog perlu ditanamkan sebuah keyakinan bahwa kebenaran suatu agama adalah milik masing-masing pemeluknya.

Sementara itu, penghargaan dan penghormatan atas agama lain adalah prioritas mutlak dalam mewujudkan kebersamaan dan perbedaan. Tanpa adanya sikap saling mengormati, tampaknya kita semakin terperosok pada keyakinan yang membabi-buta atas agama tertentu di alam yang plural ini. Dan, kita akan terjebak pada potensi-potensi kekerasan yang jelas-jelas menodai rasa kemanusiaan kita. Tugas penting agama-agama adalah bersama mencari makna kemanusiaan. Yang terjadi pada masyarakat kita selama ini adalah ketakutan mental, minimnya sikap saling menghormati dalam beragama. Ini bertentangan dengan nilai kemanusiaan dalam agama.

Sikap agama terhadap masalah kemanusiaan, akan menjadi tolok ukur profetis agama di tengah masyarakat. Kehilangan fungsi profetis ini otomatis menghilangkan fungsi agama di tengah masyarakat. Bahkan, TH Sumartana almarhum (1996) mengatakan bahwa dalam diskursus kita tentang pertemuan antaragama, kita terpanggil bukan hanya untuk membuat agenda sosial politik dan lainnya. Tetapi setaraf dengan itu, kita harus mengedepankan sebuah agenda teologi sebagai kesatuan integral.

Dengan demikian, tugas teologi dalam agama mestinya diarahkan untuk mengusir rasa takut terhadap agama lain. Sehingga agenda yang sangat mendesak adalah mengalahkan ketakutan bersama antar agama itu dan memunculkan kebersamaan agama-agama dalam menjaga dan mempertahankan martabat manusia dari ancaman terutama yang datang dari diri sendiri.

Di masa Orba, kita sering merasa sedih karena agama selalu mengalami reduksi dan politisasi. Doktrin agama tentang kedamaian direduksi menjadi sebentuk fundamentalisme, yaitu hasil dari proses politisasi dan fanatisasi agama. Di masa itu pula kita memahami bahwa pereduksian agama akan melahirkan situasi di mana agama tertentu terjebak dalam konfrontasi dengan kelompok agama lain. Keberagamaan kita terjebak kepada bentuk formalisme beragama. Akibat yang memilukan adalah agama justru terasing dari persoalan kehidupan manusia. Mengapa demikian? Hal ini tak lain karena fungsi agama kabur. Agama yang seharusnya menjadi pembebas, malah terjebak pada aspek romantisme formal.

Oleh karena itu, di sini penting mengutip pendapat JB Banawiratma (1996) bahwa dalam memandang agama kita perlu melihatnya dalam dua aspek, yakni dengan huruf kecil dan besar. Dalam “agama” (‘a’ kecil) ajaran diberikan pada manusia untuk beriman kepada Tuhan yang memberi hidup, dan dalam “Agama” (‘A’ besar) para pengikutnya cenderung membakukan ajaran-ajaran yang normatif, membangun institusi dan memperlakukannya secara ekstrim. Ini artinya agama yang ia yakini benar adalah benar untuk semua, dan agama yang lain salah.

Beragama secara ekstrem sebagaimana di atas akan menutup peluang sikap saling menghormati dan membantu pihak lain. Jika kita runut ke belakang, ini terjadi akibat tafsir-tafsir atas teks agama yang masih didominasi tafsir tekstual, bukan kontekstual. Ayat suci agama tidak diorientasikan mengikuti perkembangan kemanusiaan, melainkan perkembangan kemanusiaan yang harus mengikuti aturan ayat suci.

Akibatnya, pikiran kaum beragama menjadi beku dan rigid. Segala sesuatu yang konstruktif dan membawa perdamaian, tapi jika ditafsir secara berbalikan dengan teks ayat suci agama itu akan menjadi dekonstruktif.

HANCURNYA keadaban publik membuat tata nilai kabur karena hidup ini tampak hanya digerakkan oleh apa yang terlihat secara inderawi belaka. Kehidupan seperti ini, yakinilah, hanya akan membawa masyarakat Indonesia hidup tanpa visi untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih beradab.


Visi Indonesia ke depan ditentukan oleh bagaimana kultur beradab dijadikan acuan atas perilaku dalam kehidupan bersama. Peranan agama menjadi amat penting, tetapi bila dia berposisi sebagai poros yang memainkan perannya sebagai penyimbang dalam dua poros utama, yakni negara dan pasar. Itu kita katakan karena selama ini agama sering terjebak pada permainan negara dan terjerumus dalam logika pasar kapitalisme global yang halus tetapi mencelakakan.


Agama harus dikembalikan perannya sebagai penyeimbang dalam kedua kekuatan besar tersebut. Itulah yang penulis maksud dengan upaya untuk merenda habitus baru bangsa dan upaya untuk merumuskan kultur bangsa yang beradab.


Jelas bahwa orientasi hidup beragama tidak hanya sekadar mencari kerukunan antara agama satu dan lainnya, setelah itu kita beranggapan everything is over. Justru setelah kerukunan agama tersebut hidup berkelanjutan, hal itu harus menjadi modal bangsa untuk membangun dan mencari keseimbangan di antara posisi negara dan pasar, antara perancang kebijakan politik dan para pelaku ekonomi.


Jadi masalahnya adalah bagaimana kerukunan hidup beragama itu bisa menjadi modal dasar untuk membangun sebuah cara pandang, cara merasa, dan cara perilaku sesuai dengan kemanusiaan dan keadilan.


Dengan cara seperti itu, berarti agama dalam masyarakat adalah sebagai roh dan semangat untuk membangun dan bukan agama sebagai tujuan yang dilegal-formalkan untuk kepentingan kelompok tertentu. Agama akan menjadi roh pembebas masyarakat dari ketakutan akan represi negara maupun ketertindasan eksploitasi ekonomi.


AGAMA tidak menjadi orientasi hidup, melainkan untuk menjadikan hidup ini lebih berorientasi pada kemanusiaan. Itulah sekiranya tujuan terpenting beragama yang sering terselewengkan dalam perjalanan kita sebagai bangsa. Yakni ketika agama dijadikan sebagai manifesto simbolik yang harus ditegakkan dengan pedang daripada dijadikan pewarna kehidupan kita untuk memperkuat semangat.


Kualitas kerukunan beragama amatlah ditentukan oleh masyarakat sendiri, sejauh politik tidak menggunakan agama sebagai aspirasi. Masalahnya, di Indonesia ini agama sering dijadikan instrumen kekuasaan daripada sebagai pewarna dan pengarah.


Inilah yang membuat agama sering mandul dalam diri para pengkhotbah dan para pemeluknya. Sebab, ia tidak pernah dibatinkan dalam perilaku, tetapi lebih dijadikan komoditas politik dan ekonomi untuk kepentingan jangka pendek dan amat sempit.


Orientasi beragama justru bukan untuk mengembangkan keadaban publik, tetapi lebih pada bentuk lahiriahnya saja. Pada akhirnya umat beragama hanya mencari identitas diri di bawah simbol-simbol perlawanan yang berdarah, bukan perlawanan terhadap kemiskinan dan ketidakadilan.
Persoalan identitas yang simbolistik inilah yang membuat kerukunan kita hanya semu. Orientasi beragama hanya sekadar to have religion bukan to be religion. Agama kehilangan jati diri dan nuraninya seba- gai entitas pembawa kedamaian dan keadilan.


Agama hanya dipahami parsial lewat ketakutan dan dihilangkan unsur rasionalitasnya. Kalau politik seperti ini yang dikembangkan, kerukunan agama tidak akan lestari karena ia akan mudah diledakkan menjadi konflik laten.


KUALITAS beragama bisa diukur bila kesalehan tidak sekadar bermakna individual, melainkan sosial.
Kesalahen sosial akan melahirkan sikap-sikap kemanusiaan dalam berbagai kebijakan politik maupun ekonomi.
Seharusnya yang dipentingkan bukan hanya jumlah rumah ibadatnya saja, melainkan pada orientasi hidup yang bernilai pemekaran pada nilai kebersamaan, solidaritas, dan kesetiakawanan.
Nilai-nilai ini hanya bisa ditumbuhkan bila agama menjadi inspirasi batin.


Tetapi, tampaknya hal ini belum terwujud secara optimal karena kerukunan agama hanya dalam wacana belaka dan belum menjadi habitus bangsa. Kerukunan belum menjadi menjadi cara pandang, cara berpikir, dan cara berperi laku manusia-manusia beragama di Indonesia.


Pluralitas yang seharusnya menjadi modal utama untuk pembentukan karakter bangsa berjalan terseok-seok.
Agama sendiri terjebak pada hal-hal ritual. Akibatnya, cara beragama masyarakat hanya upaya mengejar simbol. Hal ini membuat agama tidak mampu menjadi dirinya sendiri dan gagal menjadi penyeimbang dua kekuatan utama, yakni negara dan pasar.
Dengan demikian, hal yang mendasar ditumbuhkan adalah bagaimana masing- masing agama dan para pemeluknya mengembalikan wajah agama menjadi lebih manusiawi. Orientasinya adalah agar agama berpihak kepada realitas kemiskinan, ketidakadilan.


Sebab, di situlah agama memiliki wajahnya yang lebih profetis. Dia harus menjadi sumber moralitas dalam kehidupan ini. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana agar agama menjadi dirinya sendiri dan yang lebih penting adalah menjadi media komunikasi iman dalam mengubah kehidupan ini.
Tampaknya kini yang dibutuhkan adalah paradigma baru, yakni bagaimana para pemimpin agama berani menafsirkan teks sesuai dengan konteks politik, budaya, ekonomi pada waktu ini, bukan sesuai dengan setting history masa lampau. Dengan menafsirkan teks dalam konteks zaman ini, para pemuka agama akan mampu keluar dari kaca mata eksklusif dan berubah menjadi inklusif.


Pemahaman yang lebih inklusif inilah yang seharusnya dimiliki oleh para pemuka agama di negara kita. Dengan pemahaman seperti ini maka dialog agama akan lebih berkembang menjadi dialog kehidupan.
LEMBAGA agama yang belum optimal memainkan peranannya sebagai komunitas “pemutus kata” dan hanya sebagai komunitas “pengiya kata” maka konsekuensinya mereka akan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang semu dan tidak mendasar.


Lembaga agama hanya berdialog dalam level teologis, tetapi tidak menyentuh masalah mendasar, yakni masalah kemiskinan, pengangguran, dan berbagai ketidakadilan struktural lainnya. Inilah yang membuat lembaga agama tidak memainkan diri sebagai kekuatan penyeimbang dan membuat kerukunan hanya sekadar seremonial belaka.


Inilah agenda mendasar yang perlu dipikirkan oleh umat beragama untuk secara serius memikirkan masa depan bangsa ini.


Hancurnya keadaban publik sudah hampir sempurna. Realitas lembaga agama yang cuek dengan masalah ini justru akan menjerumuskan diri pada masalah yang amat tidak mendasar dan tidak perlu dijadikan perdebatan.


Sumber: KOMPAS

Salah satu tantangan yang sangat besar dalam menciptakan kerukunan agama adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan.


Semua agama memiliki potensi untuk menciptakan kekerasan kapan pun dan dimana pun. Terorisme bisa muncul dari agama mana pun. Walaupun sering didengar bahwa teorisme identik dengan Islam, saya mempercayai bahwa itu sama sekali bukan susbtansi dari Islam.
Saya mempercayai penjelasan dari tokoh-tokoh yang mencintai perdamaian, bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian. Mereka bahkan menentang keras perjuangan yang menggunakan cara kekerasan. Intinya, agama secara substansi mengajarkan perdamaian, bukan permusuhan.


Saya terharu di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak dan ketakutan yang sering dibungkus atas nama agama, terdapat sebuah surat yang bersahabat; surat yang mengajak dua komunitas besar, yakni muslim dan Kristen untuk menciptakan perdamaian sejati dengan mengakhiri kekerasan secepatnya.


Seperti yang terjadi pada 13 Oktober 2007, 138 pakar Muslim mengirim sebuah surat penting kepada Paus Benediktus XVI dan para pemimpin Kristen lainnya. Ada 11 tokoh penting dari negara-negara Asia, termasuk wakil-wakil dari Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan dan Uzbekistan.


Surat itu dikirim pada peringatan setahun surat terbuka yang dikirim oleh 38 pakar Muslim tahun 2006 kepada Paus Benediktus sebagai tanggapan atas kata-kata Paus tentang Islam dalam kuliah yang disampaikannya di Regensburg, Jerman.


Surat ini merupakan pengantar diskusi Muslim-Kristen di bidang-bidang baru pertemuan kedua penganut agama. Diskusi jauh lebih bermakna daripada mengedepankan konflik kekerasan dan ketidaksepakatan yang dipicu dendam pertikaian masa lalu.


Topik-topik yang dipaparkan dalam surat itu adalah: cinta akan Allah, cinta kepada sesama, dan landasan bersama untuk hubungan antara umat Kristen dan kaum Muslim. Para pakar Muslim itu menyatakan bahwa umat Islam dan Kristen hendaknya mengakui bahwa mereka menyembah dan mengabdi Allah yang sama.


Mereka itu satu dalam memuji Allah yang Esa dan satu-satunya Allah, dan bersatu dalam bersyukur kepada Allah. Dalam mengakui Allah sebagai Sang Pencipta segala sesuatu, umat Islam dan umat Kristen perlu didorong untuk mencintai dan berdevosi kepada Allah.

Belajar dari Masa Lalu


Kemengertian dan kesalingpahaman inilah yang dibutuhkan untuk menciptakan perdamaian. Umat Katolik yang dewasa, sudah saatnya melihat Islam bukan sebagai ”agama terorisme”, dan memahami sebenar-benarnya bahwa kekerasan dalam terorisme bukanlah ajaran agama tertentu, melainkan suatu penyimpangan. Demikian pula sebaliknya, umat Islam yang berjiwa besar melihat agama lain sebagai saudara, bukan musuh.


Islam tidak pernah menentang umat Kristen, sejauh umat Kristen tidak menyakiti kaum Muslim. Dan tentu juga berlaku sebaliknya. Para pakar dalam surat itu menyatakan,
“Sebagai kaum Muslim, kami mengatakan kepada umat Kristen bahwa kami tidak melawan mereka dan bahwa Islam tidak bertentangan dengan mereka–sejauh mereka tidak menabur genderang perang melawan kaum Muslim atas nama agama mereka, menekan kaum Muslim, dan memaksa kaum Muslim meninggalkan tempat tinggalnya.” Dari kalimat ini acuan yang dituju cukup jelas, yakni mengacu pada konflik-konflik seperti di Palestina, Irak, Bosnia, Chechnya, dan Afghanistan, tempat kaum Muslim menjadi korban agresi.


Belajar dari surat ini besar harapan terciptanya sebuah dialog yang benar dan tulus untuk menghilangkan sekat-sekat kecurigaan dalam rangka menciptakan tata dunia baru yang dilandasi oleh nila-nilai kesamaan, keadilan dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu harus dijadikan fokus dalam menciptakan keberagamaan yang otentik.


Dalam hal ini diperlukan kesadaran dialog dari masing-masing komunitas untuk menghilangkan beban masa lalu dan mengikis dendam sejarah yang kelam menuju masa depan yang gemilang. Masa depan itu bisa diraih bila dua komunitas tersebut berhasil saling merajut kebersamaan untuk menciptakan solidaritas kemanusiaan demi memuliakan Tuhan di muka bumi ini.
Sudah banyak pikiran dan tenaga yang tercurahkan demi tercapainya dialog, komunikasi dan kerja sama antarumat beragama. Biasanya dialog hanya dilakukan oleh pemuka agama, pejabat pemerintah. Karena itu kita harus menyadari bahwa masalah yang sering muncul bukan pada tataran kaum elite agama, tapi kaum bawah yang secara kultural masih awam dan secara struktural masih lemah.


Kemesraan antara para pemuka agama tidak berhenti pada kepuasan personal saja. Tapi harus bisa disampaikan pada masyarakat sesuai dengan bahasa mereka demi kepentingan bersama.

Kesalehan Sosial


Dialog antaragama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka. Pembumian makna dialog ini berarti menepis hal-hal yang berbau ritual dan formal, tapi lebih menjunjung tinggi aspek semangat dan rohnya. Lebih jauh lagi, pembumian makna dialog juga berarti bagaimana masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian ini guna menjalankan kehidupan dalam suasana yang tenang tanpa ketakutan dan kecemasan.


Yang perlu mendapat prioritas adalah bagaimana membangun kesadaran dalam beragama. Keberagamaan kita mestinya tidak sekedar berwajah kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial. Kesalehan sosial, selain bermakna kepedulian di bidang ekonomi, juga kepedulian untuk tidak menghardik umat dari agama lain.


Jika agama kita berwajah seperti itu maka wajah agama kita amat manusiawi sebab orientasinya tidak egoistik, tetapi mengandung relasi dengan sesama, bahkan altruistik. Jika demikian, tiap ibadat pun lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan. Mempersembahkan korban bukan hal utama dalam agama, tetapi pemihakan kepada nilai-nilai kemanusiaan.


Dengan kata lain, bila Anda masih bermusuhan, berdamailah dengan saudaramu lebih dahulu, baru setelah itu engkau rayakan ibadat. Bila tanganmu masih penuh dengan penindasan, cucilah lebih dahulu agar engkau layak beribadat.


Bila dirimu masih membenci sesamamu, berdamailah dahulu, lalu beribadat kepada Tuhan. Bila engkau masih berniat membunuh, ubah dulu niat itu, baru merayakan ibadat. Bila engkau masih merencanakan balas dendam, batalkan dulu, baru rayakan ibadat kepada Tuhan. Peribadatan kita menjadi memuakkan, ketika dalam waktu yang bersamaan tangan kita berlumuran darah. Begitulah pesan Yesaya beberapa abad lalu.


Tugas umat beriman adalah menyucikan dunia dengan menegakkan kemanusiaan manusia dan keadilan yang bermoral. Keberagamaannya bukan untuk kepentingan diri sendiri yang egostik, tetapi sebaliknya altruistik.


Romo Mangun (alm.) mengatakan, orang yang memiliki religiositas itu tidak memikirkan diri sendiri, justru memberikan diri untuk keselamatan orang lain. Iman harus menghasilkan buah kebaikan, perdamaian, keadilan, dan kesejahteraan. Intinya, beragama secara benar adalah bila kita mampu mengendalikan organ tubuh kita sendiri untuk tidak memuaskan diri sendiri.

Sumber: Sinar Harapan

Di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak dan ketakutan serta munculnya konflik kepentingan di bungkus atas nama agama, dunia dikejutkan dengan sebuah surat yang bersahabat, mengajak dua komunitas besar, yakni komunitas Muslim dan Kristen, untuk menciptakan perdamaian sejati dengan mengakhiri lingkaran kekerasan.


Pada 13 Oktober, 138 pakar Muslim mengirim sebuah surat penting kepada Paus Benediktus XVI dan para pemimpin Kristen lainnya. Dari para penanda tangan itu terdapat 11 orang dari negara-negara Asia, termasuk wakil-wakil dari Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, dan Uzbekistan. Salah satu dari mereka adalah Professor Nasaruddin Umar, sekretaris jenderal dari Consultative Council of the Nahdatul Ulama.


Di antara mereka itu ada juga Dr Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Malaysia. Surat itu dikirim pada peringatan setahun surat terbuka yang dikirim oleh 38 pakar Muslim tahun 2006 kepada Paus Benediktus sebagai tanggapan atas kata-kata Paus tentang Islam dalam kuliah yang disampaikan Paus di Regensburg, Jerman.


Pernyataan dalam surat yang baru ini tidak mengacu pada kontroversi sebelumnya. Surat ini jelas dimaksud untuk dijadikan sebagai pengantar untuk diskusi Muslim-Kristen di bidang-bidang baru pertemuan kedua penganut agama itu ketimbang membiar-kan mereka terperangkap dalam ketidaksepakatan dan pertikaian masa lalu.


Topik-topik yang dipaparkan dalam surat itu adalah: cinta akan Allah, cinta kepada sesama, dan landasan bersama untuk hubungan antara umat Kristen dan kaum Muslim. Seperti yang diharapkan dari sebuah dokumen yang berakar pada tradisi Islam, argumen-argumen untuk tema-tema ini didasarkan pada Alquran dan Alkitab, kitab suci kedua agama itu.


Allah yang Esa

Poin pertama yang yang diutarakan para pakar Muslim itu adalah bahwa umat Islam dan umat Kristen hendaknya mengakui bahwa mereka menyembah dan mengabdi Allah yang sama. Mereka itu satu dalam memuji Allah yang Esa dan satu-satunya Allah, dan bersatu dalam bersyukur kepada Allah. Dalam mengakui Allah sebagai Sang Pencipta segala sesuatu, umat Islam dan umat Kristen perlu didorong untuk mencintai dan berdevosi kepada Allah.
Para pembaca Kristen yang tidak terbiasa dengan Alquran akan kaget dengan adanya begitu banyak ayat Alquran yang dikutip untuk menunjukkan pentingnya mencintai Allah dan mencintai sesama manusia.


Dokumen itu membuat kesimpulan dengan menegaskan “bahwa kaum Muslim harus secara total mengabdi Allah dan mencintai-Nya dengan segenap hati dan dengan segala sesuatu yang ada di dalam diri mereka, dan menyediakan suatu cara… bagi mereka untuk mewujudkan cinta ini dengan segala keberadaan mereka”.


Tentang cinta kepada sesama, dokumen itu mengutip pernyataan yang indah dari Nabi Muhamad yang ditemukan dalam kumpulan Hadith (tradisi lisan yang terkait dengan ucapan dan perbuatan Muhamad): ”Tak seorangpun dari kamu beriman sampai kamu mencintai sesamamu seperti kamu mencintai diri kamu sendiri.”


Sekalipun Islam dan Kristen merupakan agama yang berbeda, para pakar Muslim itu menegaskan bahwa percaya akan satu Allah yang sama serta mencintai Allah dan sesama merupakan landasan bersama bagi persatuan antara agama Islam dan Kristen (dan agama Yahudi).


Para pakar itu ingin menegaskan kepada umat Kristen bahwa Islam tidak menentang umat Kristen, sejauh umat Kristen tidak menyakiti kaum Muslim. Mereka menyatakan: ”Sebagai kaum Muslim, kami mengatakan kepada umat Kristen bahwa kami tidak melawan mereka dan bahwa Islam tidak bertentangan dengan mereka–sejauh mereka tidak menabur genderang perang melawan kaum Muslim atas nama agama mereka, menekan kaum Muslim, dan memaksa kaum Muslim meninggalkan tempat tinggalnya”.


Ini agaknya mengacu pada konflik-konflik modern seperti di Palestina, Irak, Bosnia, Chechnya, dan Afghanistan, tempat kaum Muslim menjadi korban agresi orang Yahudi dan Kristen.


Ketulusan
Akhirnya, para pakar menghimbau dialog berdasarkan dua keyakinan itu, yaitu ke-Esa-an Allah serta cinta akan Allah dan sesama seperti yang diajarkan agama Islam dan Kristen.
Mereka menyatakan, ”Biarlah landasan bersama ini menjadi dasar semua dialog antaragama di antara kita di masa depan”.


Dengan kata lain, hubungan-hubungan antara penganut kedua agama hendaknya tidak diatur oleh berbagai keprihatinan yang dijadikan taktik atau berbagai hubungan kemasyarakatan, tetapi oleh persatuan teologis yang terbentuk berdasarkan iman dan kasih kepada Allah yang Esa.


Jean-Louis Kardinal Tauran, wakil Paus untuk dialog antaragama di Vatikan, memuji dokumen itu, dengan menyebutnya sebagai “suatu tanda yang membesarkan hati”. Sambutan hangat serupa atas surat itu juga datang dari Samuel Kobia, sekretaris jenderal Dewan Gereja-gereja se-Dunia.
”Satu saat ketika umat manusia mengarahkan perhatian mereka kepada para pemimpin agama untuk mencari tuntunan seperti bagaimana menanggapi situasi kekerasan di dunia,” katanya, “surat ini memberi banyak harapan.”


Menurut pendapat saya, pernyataan yang paling orisinal dan meyakinkan ini hendaknya dipelajari oleh segenap umat Kristen dan kaum Muslim yang tertarik membangun kerja sama dan hubungan penuh penghormatan di antara kedua komunitas agama itu, serta oleh siapa saja yang ingin menciptakan perdamaian dan kerukunan di dunia ini.


Ketulusan itulah kunci untuk menciptakan hubungan antara muslim dan Kristen menuju sebuah peradaban baru yakni terciptanya tata dunia “baru“ yang didasari oleh kemauan untuk terlibat dalam menghentikan kekerasan di dunia. Sumber utama dari kekerasan yang muncul akibat dari tata dunia yang tidak seimbang dimana negara negera berkembang tak berdaya menghadapi kapitalisme global yang menguasai aset hajat hidup orang banyak.


Lewat surat terbuka ini diharapkan terciptakan sebuah dialog yang benar tulus serta menghilangkan sekat-sekat kecurigaan untuk menciptakan tata dunia baru yang dilandasi oleh nilai-nilai kesamaan, keadilan. Nilai-nilai dijadikan fokus dalam menciptakan beragamaan yang otentik.


Dibutuhkan sebuah dialog peradaban dari masing-masing komunitas untuk menghilangkan masa lalu yang kelam menuju masa depan. Masa depan bisa diraih bila dua komunitas saling merajut “kebersamaan untuk menciptakan solidaritas kemanusian demi memuliakan Tuhan di dunia ini
”.

Sumber: Sinar Harapan

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.