Dialog Antar Agama


PROBLEM kehidupan beragama di Indonesia masih cukup banyak dan setiap saat muncul problem yang berbeda-beda. Untuk menjalankan kehidupan beragama secara bersama-sama antarpemeluk dengan semangat toleransi tinggi masih menghadapi tantangan yang tidak kecil. Walaupun wacana pluralisme dan toleransi antar agama ini sudah sering dikemukakan dalam berbagai wacana publik, namun praktiknya tidaklah semudah yang dipikirkan dan dibicarakan. Walaupun sudah terdapat kesadaran bahwa bangsa ini dibangun bukan atas dasar agama, melainkan oleh kekuatan bersama, namun pandangan atas ‘agamaku’, ’keyakinanku’ justru sering menjadi dasar dari berbagai perilaku sehari-hari yang bermuatan kekerasan.

Sekalipun kita menyadari pentingnya slogan Bhinneka Tunggal Ika, namun praktik di lapangan tak seindah dan semudah pengucapan slogan itu. Masih banyak persoalan keagamaan di Indonesia yang menghantui dan menghambat terwujudnya solidaritas, soliditas dan toleransi antarumat beragama di Indonesia.

Kekerasan dalam Beragama

Salah satu persoalan mendasar dalam demokrasi Indonesia adalah kebebasan menjalankan ibadat dan keyakinan. Pada 2007 adalah saat di mana pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan terjadi sangat nampak di permukaan. Serangkaian perusakan, kekerasan, dan penangkapan terhadap kelompok-kelompok yang dianggap “sesat” dan kelompok agama lain terjadi dan dipertontonkan kepada publik. Sepanjang Januari-November, Setara Institite mencatat 135 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan keyakinan. Dari 135 peristiwa yang terjadi, tercatat 185 tindak pelanggaran dalam 12 kategori.

Jumlah terbanyak kelompok (korban) yang mengalami pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah al qiyadah al Islamiyah. Aliran ini ditimpa 68 kasus pelarangan, kekerasan, penangkapan dan penahanan. Kelompok berikutnya adalah jemaah Kristen/ Katholik yang mengalami 28 pelanggaran, disusul Ahmadiyah yang ditimpa 21 tindakan pelanggaran.

Dari pelaku 185 pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan adalah negara. Sejumlah 92 pelanggaran dilakukan oleh negara (commission) dalam bentuk pembatasan, penangkapan, penahanan, dan vonis atas mereka yang dianggap sesat. Termasuk dalam tindakan langsung ini adalah dukungan dan pembenaran otoritas negara atas penyesatan terhadap kelompok-kelompok keagamaan tertentu. Sedangkan 93 tindakan pelanggaran lainnya terjadi karena negara melakukan pembiaran (ommision) terhadap tindakan-tindakan kekerasan yang dilakukan oleh warga atau kelompok.

Berbagai laporan yang dikeluarkan menunjukkan eskalasi kekerasan berbasis agama yang terjadi sepanjang 2007 mengandung destruksi yang sangat serius dan mengkhawatirkan.

Bentuk Kegagalan Negara

Penyerahan otoritas negara kepada organisasi keagamaan korporatis negara dalam menilai sebuah ajaran agama dan kepercayaan, merupakan bentuk ketidakmampuan negara untuk berdiri di atas hukum dan bersikap netral atas setiap agama dan keyakinan. Aparat hukum bertindak di atas dan berdasarkan pada fatwa  agama tertentu dan penghakiman massa. Padahal institusi penegak hukum adalah institusi negara yang seharusnya bekerja dan bertindak berdasarkan konstitusi dan undang-undang.

Dapat dilihat di sini negara telah gagal mempromosikan, melindungi, dan memenuhi hak kebebasan beragama dan berkeyakinan. Negara, bahkan telah bertindak sebagai pelaku pelanggaran hak asasi manusia (HAM) akibat tindakannya yang melarang aliran keagamaan dan keyakinan dan membiarkan warga/ organisasi keagamaan melakukan persekusi massal atas kelompok-kelompok keagamaan dan keyakinan.

Di sini kita melihat banyak kontradiksi-kontradiksi. Dalam konstitusi yang lebih tinggi, kebebasan umat beragama dan melakukan ibadah dijamin, tapi dalam peraturan di bawahnya terdapat kecenderungan menghambat umat untuk beribadah. Ada pengekangan.

Misalnya dalam konteks rumah ibadah, itu bukanlah soal bagaimana suatu rumah ibadah diserbu bahkan dibakar oleh sekelompok orang yang menjadi persoalan utama. Itu sekedar ekses saja. Jauh lebih penting dipikirkan adalah bagaimana peran pemerintah menjadi mediator, perumus dan pelaksana kebijakan-kebijakan yang mengatur pendirian rumah ibadah. SKB yang menjadi dasar aturan itu terkesan tidak adil. Dengan demikian pelaksanaannya melahirkan dampak umat yang tidak dewasa memandang umat lain. Bukanlah umat beragama yang serta merta dipersalahkan dalam kasus ini, melainkan ketidakmampuan pemerintah untuk melihat pluralitas dengan kacamata lebih adil dan menguntungkan bagi semua.

Negara gagal memberikan perlindungan dan kesempatan yang adil bagi semua pemeluk agama untuk beribadah sesuai keyakinannya masing-masing. Jika demikian, lalu Pancasila untuk apa? Apa untuk gagah-gagahan saja? Untuk apa para founding father merumuskan falsafah bangsa yang demikian berharga dan terhormat itu jika dalam perilaku sehari-hari kita tidak bisa mempraktikkannya dengan sepenuh hati?

Membuka Ruang Dialog

Walaupun kehidupan sosial politik kita sudah mengalami kebebasan, nyatanya itu belum berimplikasi pada kebebasan asasi warga untuk beribadat. Beribadat, seperti kata Romo Magnis, adalah hak warga paling asasi, dan hanya rezim komunis yang melarangnya. Rezim seperti apakah kita ini ketika membiarkan kekerasan dalam beragama tanpa adanya ruang dialog untuk membicarakan ulang secaralebih manusiawi?

Pemerintah berkewajiban untuk menjaga, melestarikan dan meningkatkan kesadaran dan kedewasaan umat terutama dalam pandangannya terhadap umat dan keyakinan beragama yang dianggap ”lain”. Pemerintah berkewajiban untuk memberikan pencerahan dan pendewasaan pemikiran umat akan toleransi dan pluralisme. Itulah yang dimaui Pancasila. Dengan begitu kebijakan yang berpeluang untuk menumbuhsuburkan antipati terhadap saudara sebangsanya yang lain perlu didudukkan ulang untuk dibahas dan diganti dengan kebijakan yang lebih adil dan mencerahkan. Buat apa mempertahankan sesuatu yang dianggap tidak adil? Pemerintah harus mendengar dan benar-benar mendengar tuntutan seperti ini.

Kekerasan telah menjadi model yang sering dibungkus dengan ornamen keagamaan dan kesukuan. Inilah yang membuat wajah kekerasan semakin hari semakin subur di bumi pertiwi ini. Meski kita seharusnya merajut nilai persaudaraan yang secara jelas mengacu pada Pancasila, tapi kian hari Pancasila tidak lagi menjadi tujuan hidup bersama. Pancasila yang seharusnya menjadi perekat kehidupan bangsa tampak semakin hari semakin terkikis oleh kefasikan keagamaan, kedaerahan dan kesukuan. Pancasila sering diucapkan tapi sama sekali tak dipahami maknanya.

Pancasila tidak dijadikan pembatinan nilai kehidupan bersama untuk mewujudkan bangsa yang beradab. Peradaban bangsa yang diukur dengan komitmen warga untuk mewujudkan nilai kemanusiaan dan keadilan tidak pernah berhasil.

Tampak bangsa ini sangat mengagungkan formalisme keagamaan dan persatuan yang dihayati secara “fasis”. Inilah yang membuat bangsa ini gagal melompat menjadi bangsa yang menekankan rasionalitas karena kekerasan melekat menjadi kultur dalam diri kita sebagai bangsa.

Sampai sejauh ini dapat dilihat bahwa Komisi III DPR RI belum bersikap dan bertindak sama sekali atas setiap peristiwa kekerasan, diskriminasi, dan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan. Padahal, berbagai pernyataan, sikap, dan tindakan beberapa institusi mitra DPR itu mengandung muatan destruktif, membiarkan kekerasan, dan turut serta melakukan pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia .

Adalah fakta, bahwa kebebasan beragama dan berkeyakinan merupakan hak konstitusional warga yang dijamin oleh konstitusi. Karena itu, pengingkaran terhadap pemenuhan hak-hak tersebut tidak semata melanggar HAM tapi juga melanggar konstitusi.

Sumber: Benny Susetyo Pr

SETIAP menjelang Idul Fitri, Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Vatikan dengan tulus merayakan kegembiraan saudara Muslim yang merayakan Idul Fitri. Selama satu bulan, umat Muslim menahan lapar dan dahaga, memurnikan diri, membarui diri menjadi anusia berarti bagi sesama. Dalam kesadaran ini dan menyambut Idul Fitri 1429 H, Vatikan menyapa dengan ketulusan dalam tema ”Kristen dan Muslim Bersama untuk Martabat Keluarga”. Tema pesan ini ingin menggambarkan, baik Kristen dan Muslim merupakan anak Brahman. Satu keluarga besar yang dipanggil bersama untuk menjaga martabatnya. Keluarga yang di dalamnya bisa lebih meningkatkan perjumpaan dan persaudaraan satu dengan lain. Intinya, kedua saudara perlu meningkatkan rasa saling pengertian dan keduanya dipanggil untuk saling membantu.
Melalui pesan-pesan yang sudah disampaikan pada tahun-tahun sebelumnya, kita dipanggil memajukan sikap saling pengertian, saling menghormati, dan kerja sama. Panggilan ini agar kita bisa mendorong pembelajaran tentang perbedaan sekaligus memajukan pembentukan manusia yang berdedikasi pada dialog.

Manusia bukan alat produksi

Sebagai keluarga dalam dua komunitas besar umat beriman, kita dipanggil untuk membangun dunia yang lebih menyejahterakan. Di tengah dunia yang sibuk dengan segala urusan komersialisme dan memberi penekanan amat berat pada materialisme, umat beriman digugah agar menyadari bahwa manusia bukan hanya sebagai alat produksi. Manusia hidup bukan hanya untuk kepentingan materi, yang kerap menjadikan manusia bermusuhan satu sama lain.

Manusia hidup tidak hanya untuk diri sendiri dan memupuk keserakahan individual. Umat beriman memiliki beban untuk menata dunia. Kehidupan bukan hanya untuk segolongan orang, tetapi untuk umat tanpa
pandang agama dan kelompok.

Dua komunitas umat beriman ini dipanggil untuk menyelamatkan keluarga dari jurang kehancuran. Kehancuran sudah tampak di depan mata ketika manusia sendiri justru terasing dari kemanusiaannya.

Manusia terjebak dalam kehidupan yang terlalu berat pada individualisme. Nilai-nilai yang ditawarkan kerap membuat pertahanan hidup kita tak berdaya akibat rayuan serta jebakan hedonisme. Materialisme membuat keluarga sering terasing dari realitas. Panggilan kepada umat beriman ini guna menggugah kesadaran akan realitas yang perlu disadari dan dicarikan solusi bersama-sama.

Tak jarang karena kesibukan mengejar materi, kita kehilangan solidaritas. Dalam diri umat beriman sering dilanda keterasingan dan kesepian. Keluarga pun menjadi hancur karena hilangnya rasa kasih sayang. Anak-anak terjebak jurang penderitaan karena ketidakpastian masa depan. Para orangtua juga tidak jelas memperjuangkan hidup ini untuk siapa dan bagaimana caranya. Tumbuhnya kekerasan dan semangat individu yang semakin menguat cukup merisaukan akhir-akhir ini.

Keluarga sebagai sekolah

Umat Kristiani dan Muslim dipanggil untuk bekerja sama dalam rangka menjamin martabat keluarga, baik di masa sekarang maupun di masa datang. Kita harus saling membantu serta saling mengulurkan tangan dalam mendukung terpeliharanya martabat keluarga.

Sudah pasti karena keluarga adalah sekolah pertama di mana seseorang belajar untuk menghormati yang lain. Keluarga juga merupakan media pertama pendidikan toleransi dengan memerhatikan prinsip bahwa dalam perbedaan ada unsur-unsur yang bisa dilekatkan untuk saling membantu. Bukan perbedaan itu yang penting, tetapi bagaimana mengembangkan persamaan dalam semangat kemanusiaan untuk bisa saling menghargai hidup dan berkehidupan.

Melalui pesan ini, Jean Louis Kardinal Tauran dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama mengajak umat Kristiani untuk membangun relasi yang lebih mendalam dan berarti dalam menciptakan kesadaran baru bahwa umat Kristen dan Muslim adalah keluarga. Mereka dipanggil untuk saling bekerja sama dalam menjaga martabat keluarga.

Pesan ini mengajak kita semua untuk menjadikan Idul Fitri sebagai sebuah momentum dalam rangka menciptakan persaudaraan sejati. Di antara perbedaan keyakinan, ideologi, warna, kelompok, dan suku tidak seharusnya membuat kita terpecah. Justru kita sebagai keluarga seharusnya saling berbagi satu dengan lain.

Semoga Idul Fitri ini menjadi momentum yang baik untuk bersama meningkatkan persaudaraan di antara kita. Juga menjadi refleksi untuk Lebih meningkatkan kesalehan sosial demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

Sumber: KOMPAS

DIALOG agama tidak akan berhasil bila masih ada kecurigaan dalam bentuk saling memusuhi. Sebagai dua komunitas besar beragama, umat Kristen dan muslim perlu “mengoreksi citra buruk tentang pihak lain.” Hal tersebut dinyatakan Paus Benediktus XVI pada hari terakhir pertemuan Forum Katolik-Muslim di Roma. Paus meminta kedua pihak bersama-sama meningkatkan penghormatan terhadap martabat pribadi manusia dan hak-hak asasi manusia yang fundamental guna mengatasi kesalahpahaman, perselisihan, dan prasangka. Paus Benediktus menyatakan seminar itu sebagai sebuah langkah menuju saling pengertian yang lebih baik di antara umat Islam dan Kristen serta sebuah tanda yang jelas akan saling menghargai. Dengan saling hormat, keluarga akan disatukan dan dikasihi Allah.

Para pemimpin politik dan agama hendaknya memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa hak asasi manusia ditegakkan serta menghormati kebebasan hati nurani dan agama dari setiap pribadi. Umat Kristen dan kaum muslim ditantang menunjukkan dengan perkataan dan perbuatan bahwa pesan kedua agama itu adalah pesan kerukunan serta saling memahami.

Jean-Louis Kardinal Tauran, Ketua Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama, ikut bersama dua pemimpin muslim dalam menyambut paus dengan sambutan-sambutan singkat, yaitu Shaykh Mustafa Ceric, ulama besar dari Sarajevo yang memimpin delegasi muslim dan Seyyed Hossein Nasr, seorang ulama kelahiran Iran berkewarganegaraan Amerika Serikat yang mengajar tentang Islam di Universitas George Washington di Washington DC.

Nasr mengatakan, kaum muslim dari berbagai mazhab pemikiran Islam yang berbeda dan berbagai negara, ingin menjalin persahabatan yang melampaui semua perbedaan teologis dan berbagai ingatan tentang berbagai konfrontasi historis.

Dalam pernyataannya ia mengatakan, “Anda dan kami sama-sama yakin akan kebebasan beragama. Namun, kami, kaum muslim, tidak mengizinkan kristenisasi agresif di tengah-tengah kami yang hanya akan merusak iman atas nama kebebasan beragama. Akan tetapi, kami akan menerima umat Kristen jika mereka berada di antara kami.”

Penyimpangan

Pernyataan ini menegaskan eksistensi masing-masing pihak untuk saling bersikap tenggang rasa dalam suasana persaudaraan walau terdapat perbedaan. Memang salah satu tantangan yang sangat besar adalah fundamentalisme dalam diri setiap ajaran agama. Fundamentalisme ini sering mewujud dalam berbagai bentuk kekerasan. Semua agama memiliki potensi menciptakan kekerasan, kapan pun dan dimana pun.
Sebelumnya, di tengah-tengah dunia yang penuh gejolak dan ketakutan yang sering dibungkus atas nama agama, terdapat sebuah surat yang bersahabat. Surat itu mengajak dua komunitas besar, yakni muslim dan Kristen untuk menciptakan perdamaian sejati dengan mengakhiri kekerasan secepatnya.

Seperti terjadi pada 13 Oktober 2007, 138 pakar muslim mengirim sebuah surat penting kepada Paus Benediktus XVI dan para pemimpin Kristen lainnya. Ada 11 tokoh penting dari negara-negara Asia, termasuk wakil-wakil dari Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, dan Uzbekistan.

Surat itu dikirim pada peringatan “Setahun Surat Terbuka” yang dikirim oleh 38 pakar muslim tahun 2006 kepada Paus Benediktus sebagai tanggapan atas kata-kata Paus tentang Islam dalam kuliah yang disampaikannya di Regensburg, Jerman.

Surat ini merupakan pengantar diskusi muslim-Kristen di bidang-bidang baru pertemuan kedua penganut agama. Diskusi jauh lebih bermakna daripada mengedepankan konflik kekerasan yang dipicu dendam pertikaian masa lalu. Topik-topik yang dipaparkan dalam surat itu adalah: cinta akan Allah, cinta kepada sesama, serta landasan bersama untuk hubungan antara umat Kristen dan muslim.

Para pakar muslim itu menyatakan, umat Islam dan Kristen hendaknya mengakui bahwa mereka menyembah dan mengabdi Allah yang sama. Mereka itu satu dalam memuji Allah yang Esa dan satu-satunya Allah, serta bersatu dalam bersyukur kepada Allah.

Kemengertian dan kesalingpahaman inilah yang dibutuhkan untuk menciptakan perdamaian. Umat Kristen yang dewasa sudah saatnya melihat Islam bukan sebagai ”agama terorisme” dan memahami sebenar-benarnya bahwa kekerasan dalam terorisme bukanlah ajaran agama tertentu, melainkan suatu penyimpangan. Demikian pula sebaliknya, umat Islam yang berjiwa besar melihat agama lain sebagai saudara, bukan musuh.

Belajar dari Masa Lalu

Islam dan Kristen memang agama yang berbeda. Namun, perbedaan itu tidak seharusnya menjadi akar pertentangan yang seolah sudah mendarah daging, semenjak masa lalu hingga sekarang. Para pakar muslim itu menegaskan, percaya akan satu Allah yang sama serta mencintai Allah dan sesama merupakan landasan bersama bagi persatuan antara agama Islam dan Kristen (dan juga agama Yahudi).

Islam tidak pernah menentang umat Kristen, sejauh umat Kristen tidak menyakiti kaum muslim. Dan tentu juga berlaku sebaliknya. Para pakar dalam surat itu menyatakan, “Sebagai kaum muslim, kami mengatakan kepada umat Kristen bahwa kami tidak melawan mereka dan bahwa Islam tidak bertentangan dengan mereka sejauh mereka tidak menabur genderang perang melawan kaum muslim atas nama agama mereka, menekan kaum muslim, dan memaksa kaum muslim meninggalkan tempat tinggalnya.” Dari kalimat ini, acuan yang dituju cukup jelas, yakni mengacu pada konflik-konflik, seperti di Palestina, Irak, Bosnia, dan Afghanistan, tempat kaum muslim menjadi korban agresi.

Belajar dari surat ini, besar harapan terciptanya sebuah dialog yang benar dan tulus untuk menghilangkan sekat-sekat kecurigaan dalam rangka menciptakan tata dunia baru yang dilandasi oleh nila-nilai kesamaan, keadilan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai itu harus dijadikan fokus dalam menciptakan keberagamaan yang otentik. Dalam hal ini, diperlukan kesadaran dialog dari masing-masing komunitas untuk menghilangkan beban masa lalu dan mengikis dendam sejarah yang kelam menuju masa depan yang gemilang. Masa depan itu bisa diraih bila dua komunitas tersebut berhasil saling merajut kebersamaan untuk menciptakan solidaritas kemanusiaan demi memuliakan Tuhan di muka bumi ini.

Dialog antaragama tidak boleh berhenti sebatas formalitas belaka. Pembumian makna dialog ini berarti menepis hal-hal yang berbau ritual dan formal, tapi lebih menjunjung tinggi aspek semangat dan rohnya. Lebih jauh lagi, pembumian makna dialog juga berarti cara masyarakat bawah menerima cahaya kedamaian guna menjalankan kehidupan dalam suasana yang tenang tanpa ketakutan dan kecemasan.

Sumber: Sinar Harapan

Dialog antara kalangan Kristen dan Muslim yang diselenggarakan oleh Vatikan, baru-baru ini, menandai era baru dalam mewujudkan perdamaian sejati di antara dua komunitas besar umat beragama itu. Pertemuan ini merupakan panggilan untuk menyelamatkan dunia dari ancaman kerusakan global akibat krisis finansial. Krisis akibat ketamakan manusia yang menghamba pada uang. Krisis yang membuat ratusan juta orang terkena dampak akibat permainan uang semata-mata.

Dialog ini diharapkan membuka lembaran baru bagaimana agama mampu memberikan sumbangan bagi perdamaian dunia. Dialog yang diikuti 24 rohaniwan Katolik dan 24 rohaniwan Islam di Vatikan itu dalam upaya melenyapkan ketegangan diantara kedua agama yang berasal dari Timur Tengah ini. “Cinta Tuhan dan Cinta Sesama” menjadi tema forum pertama Katolik-Islam ini. Topik pembicaraan seputar akar serumpun kedua agama, martabat manusia, dan pentingnya saling menghormati.

Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pidato Paus Benediktus XVI pada September 2006 di Universitas Regensburg, Jerman. Salah satu reaksi moderat yang menonjol adalah surat terbuka kepada Paus dan pemimpin nasrani. Surat itu ditandatangani 38 rohaniwan muslim moderat dan berjudul “Kata Bersama Anda dan Kami.”

Menurut penyelenggara, sasaran utama dari pertemuan tertutup ini adalah agar para pemuka Katolik dan Islam bisa bebas berbicara tentang masalah yang mereka anggap sebagai hambatan.

Banyak urusan yang peka atau sensitif, dan diharapkan pertemuan ini bisa lebih membebaskan pesertanya berbicara tentang apa pun yang dianggap mengganjal.

Kapitalisme Global

Dialog dibutuhkan dunia, yang saat ini menghadapi berbagai macam persoalan. Dialog amat penting dilakukan dalam menghadapi keangkuhan kapitalisme global, yang sering mereduksi isu kemanusiaan dan ketika kemanusiaan tidak lagi melekat sebagai cara pandang utama negara maju dalam melihat negara miskin. Kini, dibutuhkan cara pandang baru mengenai manusia. Manusia bukanlah semata-mata alat ekonomi/produksi, juga harus diperlakukan dalam segala aspeknya. Kemanusiaan adalah paradigma dasar bagi kebersamaan untuk mengembangkan keharmonisan antara maju-terbelakang, miskin-kaya, mayoritas-minoritas, serta tertindas-penguasa. Dalam kemanusiaan itu, manusia mampu menemukan akar kebersamaan sejati.

Kemanusiaan pula yang akan menjadi dasar dalam membangun dialog antaragama, yang sering mudah diucapkan, tapi sulit direalisasikan. Dialog antaraagama akan berkembang dan menemukan tujuannya yang tepat bila orientasinya terarah pada problem kemanusiaan yang dihadapi manusia saat ini.

Pada abad komunikasi ini, dunia mengalami pergeseran orientasi nyata, ketika nilai-nilai kebersamaan bergerak secara revolusioner menuju individualisme. Perubahan ini berakibat orientasi kemanusiaan semakin menipis. Masyarakat cenderung hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri, agama, dan kelompoknya sendiri. Dapat ditebak pasti, kecenderungan ini dikhawatirkan menguatkan sentimen pribadi, keagamaan, dan kesukuan.

Kenyataan itu membuat dialog antaragama sulit menjawab persoalan-persoalan global, seperti hancurnya peradaban manusia. Hancurnya peradaban itu menyebabkan manusia semakin terasing dari dirinya, dan lingkungan sekitar. Lingkungan hidup tidak lagi menjadi tempat tinggal yang damai, karena tanah, air, dan udara mulai tercemar oleh limbah fisik sampai nonfisik.

Persaudaraan tidak lagi menjadi bagian hidup dalam menjalin relasi dengan sesama. Relasi hanya ditentukan oleh transaksi uang dan kekuasaan. Siapa kuat ia menang, persis ketika zaman manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya.

Keadilan

Kalangan agamawan tidak bisa tinggal diam dan terus berperan mencegah krisis global. Selain itu, menegaskan keberpihakan kepada kaum lemah. Globalisasi telah membuat yang lemah kian tersingkir. Globalisasi telah menjadi agama baru manusia modern. Seolah-olah tidak ada yang bisa menolak. Seolah-olah harus dipandang sebagai keniscayaan. Jika memang demikian, bagaimana agama berperan melindungi kaum miskin yang pasti hancur akibat globalisasi ini?

Globalisasi bisa membawa kemajuan bila di dalamnya terdapat keadilan dan cinta kasih. Namun, jika diorientasikan semata-mata untuk perolehan keuntungan dan persaingan, serta penghambaan buta kepada uang, maka globalisasi akan menjadi malapetaka, karena hilang aspek keadilannya.

Ini tugas agama secara bersama-sama untuk memikirkan kembali tugas barunya, yakni menjawab persoalan yang dihadapi demi menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran.

Agama harus bersatu untuk memikirkan alternatif baru membangun tata dunia baru. Tata dunia yang ada sekarang adalah tata dunia ketidakadilan dan eksploitasi. Tata dunia seperti inilah yang membuat radikalisme agama akan muncul.

Radikalisme hanya dapat diatasi bila agama bersatu untuk merumuskan etika bersama. Etika itu menyangkut nila-nilai kebersamaan yang orientasinya adalah memberdayakan kaum miskin dan tertindas. Kemiskinan itulah musuh bersama kaum beragama. Kemiskinan itulah yang membuat kemanusiaan tak berdaya menghadapi persaingan dunia.

Di sini, agama dituntut untuk mengubah wajahnya bukan lagi doktrinal, yang sibuk dengan klaim kebenaran. Agama harus mengubah wajahnya menjadi lebih profetis terhadap persoalan kehidupan manusia yang kompleks.

Pengakuan ini penting demi terwujudnya dunia yang baru tanpa prasangka buruk terhadap yang lain. Cita-cita inilah yang seharusnya dijadikan titik temu dalam membangun kebersamaan. Hans Kung mengatakan, tiada perdamaian sejati tanpa perdamaian di dalam agama itu sendiri.

« Halaman Sebelumnya

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.